Melacak Kehadiran Pesut Indragiri Hilir: Ketika Pengetahuan Nelayan dan Sains Bertemu untuk Konservasi
| Kemunculan pesut di muara sungai ekosistem mangrove (Achmad Juwardi/Blue Forests) |
Di tengah hamparan hutan mangrove dan muara sungai Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, masih hidup salah satu mamalia laut paling langka di Indonesia: pesut atau Irrawaddy dolphin (Orcaella brevirostris). Satwa yang berstatus terancam punah ini selama ini dikenal menghuni perairan pesisir dan estuari di Asia Tenggara. Namun, informasi mengenai lokasi kemunculan dan habitat pentingnya di Indragiri Hilir masih sangat terbatas. Padahal, keberadaan pesut menjadi indikator penting bahwa ekosistem pesisir masih berfungsi dengan baik.
Sebuah penelitian yang dilakukan pada 2024 mencoba menjawab keterbatasan data tersebut melalui pendekatan yang tidak biasa: menggabungkan metode ilmiah dengan pengetahuan masyarakat lokal. Tim peneliti melakukan pengamatan langsung di lapangan sekaligus menggali informasi dari nelayan yang sehari-hari beraktivitas di kawasan pesisir Indragiri Hilir. Hasilnya menunjukkan bahwa kolaborasi antara sains dan pengalaman masyarakat mampu menghasilkan informasi yang lebih kaya untuk mendukung upaya konservasi.
Penelitian dilakukan di kawasan konservasi perairan daerah (KKD) Indragiri Hilir pada Agustus 2024. Tim melakukan survei visual di 31 titik pengamatan yang tersebar di wilayah pesisir dan muara sungai. Selain itu, wawancara dilakukan terhadap 62 nelayan dari sembilan desa pesisir yang memiliki pengalaman panjang beraktivitas di laut dan kawasan estuari.
Dari pengamatan langsung, peneliti menemukan tiga lokasi kemunculan pesut yang berada di kawasan muara dan pesisir yang berdekatan dengan ekosistem mangrove. Kemunculan satwa ini paling sering tercatat pada pagi hari dan menjelang sore. Pola waktu tersebut sejalan dengan aktivitas harian pesut yang umumnya memanfaatkan perairan estuari untuk mencari makan dan bergerak mengikuti dinamika pasang surut.
Temuan menarik lainnya berasal dari pemetaan partisipatif yang melibatkan nelayan. Mayoritas responden menyebut bahwa pesut paling sering dijumpai di wilayah muara sungai dan perairan pesisir yang berbatasan langsung dengan hutan mangrove. Kesaksian para nelayan ini ternyata konsisten dengan hasil pengamatan lapangan. Kesamaan informasi dari dua sumber yang berbeda tersebut memperkuat keyakinan bahwa kawasan estuari bermangrove merupakan habitat penting bagi pesut di Indragiri Hilir.
Konsistensi informasi dari masyarakat bukanlah hal yang mengejutkan. Sebagian besar responden merupakan nelayan tradisional yang telah melaut selama lebih dari 15 tahun. Pengalaman panjang mereka membuat para nelayan memiliki pengetahuan ekologis lokal yang sangat berharga, termasuk mengenai lokasi kemunculan satwa, perubahan habitat, hingga pola pergerakan biota di wilayah tangkap mereka.
Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa keberadaan pesut sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan. Kawasan di Kecamatan Mandah tercatat memiliki indeks kehadiran pesut tertinggi. Wilayah ini memiliki tutupan mangrove yang tinggi, kedalaman perairan yang relatif dangkal, dan jarak yang dekat dengan muara sungai. Sebaliknya, lokasi dengan tutupan mangrove yang lebih rendah dan berada lebih jauh dari muara menunjukkan tingkat kemunculan pesut yang lebih rendah.
Temuan tersebut menegaskan pentingnya ekosistem mangrove bagi kelangsungan hidup pesut. Mangrove tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pantai, tetapi juga menjadi habitat berbagai jenis ikan, udang, dan krustasea yang merupakan sumber makanan utama pesut. Dengan kata lain, keberadaan pesut sangat bergantung pada kesehatan ekosistem pesisir secara keseluruhan.
Di sisi lain, berbagai ancaman masih membayangi keberlangsungan spesies ini. Kasus kematian pesut akibat terjerat alat tangkap nelayan di beberapa wilayah Indonesia menunjukkan bahwa interaksi antara aktivitas manusia dan satwa laut masih menjadi persoalan serius. Hilangnya habitat akibat degradasi mangrove dan perubahan kualitas lingkungan juga berpotensi memperburuk kondisi populasi pesut di masa depan.
Karena itu, penelitian ini memberikan pesan penting bagi pengelolaan kawasan konservasi di Indragiri Hilir. Upaya perlindungan pesut tidak cukup hanya mengandalkan data ilmiah atau kebijakan formal semata. Pengetahuan masyarakat pesisir yang telah hidup berdampingan dengan ekosistem mangrove selama puluhan tahun perlu ditempatkan sebagai sumber informasi yang sama pentingnya.
Integrasi antara pengamatan ilmiah dan pengetahuan lokal terbukti mampu mengidentifikasi habitat prioritas secara lebih akurat. Pendekatan ini juga membuka ruang partisipasi masyarakat dalam proses pengambilan keputusan konservasi. Ketika masyarakat merasa dilibatkan, peluang keberhasilan perlindungan satwa dan habitatnya akan semakin besar.
Menjaga pesut berarti menjaga kesehatan ekosistem estuari dan mangrove Indragiri Hilir. Kehadiran mamalia laut ini bukan sekadar penanda kekayaan biodiversitas, tetapi juga cerminan kondisi lingkungan pesisir yang masih mampu menopang kehidupan. Selama pesut masih dapat dijumpai di perairan Indragiri Hilir, masih ada harapan bahwa ekosistem pesisir di kawasan ini tetap bertahan dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
*PS Berdasarkan artikel ilmiah “Visual sightings and participatory mapping methods to reveal the Irrawaddy Dolphin in Indragiri Hilir, Riau, Indonesia.”


Pesut Inhil 😍
BalasHapus