Postingan

Pengawasan dan Monitoring Mangrove Berbasis Masyarakat: Pembelajaran dari Lanskap Mimika-Asmat dan Indragiri Hilir

Gambar
Tahun 2020 hingga 2024 ditetapkan oleh Pemerintah Republik Indonesia sebagai periode Percepatan Rehabilitasi Mangrove Nasional. Melalui Perpres 120/2020 tentang Badan Restorasi Gambut dan Mangrove, ditargetkan sekitar 600.000 hektare kawasan mangrove direhabilitasi selama periode empat tahun tersebut. Upaya pelestarian ekosistem mangrove ini perlu disambut oleh seluruh pihak pada semua sektor dan lapisan, mulai dari pemerintah hingga masyarakat di tingkat tapak. Setelah melalui masa alih-fungsi kawasan secara masif dalam beberapa dekade terakhir, hutan mangrove Indonesia masih merupakan yang terluas di dunia. Menurut Peta Mangrove Nasional (PMN) yang dipublikasi pada 2021, total luas mangrove Indonesia adalah 3.364.080 hektare. Kelas kerapatan tajuknya masing-masing: mangrove lebat seluas 3.121.240 hektare (92.78%); mangrove sedang seluas 188.366 hektare (5,60%); mangrove jarang seluas 54.474 hektare (1,62%). Dibutuhkan satu strategi khusus untuk memastikan kelestarian ekosistem ma...

Resiliensi

Gambar
  Resilience is defined as the dynamic ability to adapt successfully in the face of adversity, trauma, or significant threat. - Sarah R Horn Saya mengenal satu kata saat mulai bekerja di dunia konservasi-- yang lantas menjadi kata favorit saya, yaitu resiliensi (resilience). Dalam dunia konservasi, kata resiliensi menggambarkan suatu keadaan yang memungkinkan suatu sistem (lingkungan, kampung, ekosistem, dll) dapat beradaptasi dari perubahan atau ancaman yang terjadi dalam waktu cepat. Ancaman tersebut bisa berupa dampak perubahan iklim, bencana, atau wabah penyakit. Secara singkat kita menyebutnya tangguh. Biar lebih jelas, saya ilustrasikan keadaan resiliensi itu dari apa yang pernah saya lihat langsung: Saat pandemi Covid 19 lalu, dunia begitu menjadi panik. Akses ditutup, rantai logistik menjadi tersendat, dan perekonomian seperti berhenti sementara. Dampak besarnya dirasakan merata oleh masyarakat. Jangankan mendapatkan penghasilan ekonomi, sekadar mengakses bahan pangan saja ...

Perempuan Adat, Pahlawan Pangan dengan Triple Minority

Gambar
Perempuan, masyarakat adat, dan pangan lokal adalah tiga isu yang nyaris selalu terpinggirkan dalam percakapan pembangunan nasional. Ketiganya melekat sempurna pada diri perempuan adat. Di Asmat, Papua, perempuan adat atau mama-mama Asmat memegang peranan penting dalam pengelolaan sumber daya alam, utamanya pangan lokal. Hal ini tidak terlepas dari pembagian peran di masa lalu. Pada masa perang suku, laki-laki Asmat dibebani tugas untuk menjaga keamanan kampung hingga turut berperang. Sedangkan yang mengumpulkan bahan makanan bagi keluarga menjadi tugas perempuan. Pembagian peran ini menurun hingga sekarang, walaupun tradisi perang suku sudah hampir tidak pernah terjadi. Peran perempuan Asmat dalam bekerja mengumpulkan bahan makanan menjamin ketersediaan pangan bagi komunitas adat terbesar di pesisir selatan Papua tersebut. Mereka meramu sagu yang tumbuh subur di hutan sekitar kampung. Bahkan di masa kini, sagu yang dikumpulkan oleh mama-mama Asmat sebagian disalurkan ke pasar untuk me...

Kearifan yang Menyelamatkan Hutan dan Masyarakat Adat

Gambar
Philipus Yiwit (45 tahun) berjalan perlahan menyusuri tanah rawa di hutan milik keluarganya di Kampung Bow dan Uwus, Distrik Agats, Asmat, Papua. Pada sebuah pohon sagu berukuran sedang ia berhenti. Dengan dibantu seorang kerabatnya, ia lantas melingkarkan daun sagu muda di pohon tersebut. Sembari merapalkan doa adat, ia memastikan ikatan daun sagu tadi sudah cukup kuat melingkar. “Ini tanda kalau pohon sagu di dusun ini tidak boleh ditebang sama orang lain,” katanya. “Pohon ini sa simpan untuk biaya anak masuk SMA nanti.” Dalam khazanah kearifan lokal masyarakat adat Asmat, ritual yang dilakukan oleh Philipus tersebut disebut  cayin . Menurut Walter Ewenmanam (48 tahun), salah satu pemuka adat Asmat di Kampung Yepem, Distrik Agats,  cayin  berarti membatasi diri atas suatu aktivitas atau pekerjaan karena suatu sebab. Dalam pengelolaan sumber daya alam,  cayin  biasa diterapkan oleh masyarakat adat Asmat untuk membatasi aktivitas pemanfaatan di suatu wilayah d...

Melestarikan Mangrove, Memperkuat Resiliensi Masyarakat Pesisir: Pembelajaran Konservasi dari Indragiri Hilir

Gambar
  Seorang nelayan kepiting bakau di Parit 18 memperlihatkan hasil tangkapannya. Walau terletak jauh dari pusat keramaian, rumah Andi Masrapi (45 tahun) jarang sekali terlihat sepi. Selain sebagai tempat tinggal, rumah panggung berbahan kayu di Parit 18 Kelurahan Sapat tersebut juga difungsikan sebagai tempat menjalankan usaha oleh pemiliknya. Pria yang biasa disapa Rapi ini menjalankan usaha warung kelontong dan pengumpul hasil perikanan di rumah tersebut. Kedua usaha itu menjadi mata pencaharian utamanya setelah kebun kelapa miliknya di lokasi tersebut mulai rusak. Sampai tahun 2015 perkebunan kelapa di Parit 18 Kelurahan Sapat, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, masih produktif. Menurut pengakuan Rapi, setiap kali panen, kebun kelapa miliknya mampu menghasilkan puluhan ribu sampai ratusan ribu butir kelapa. Angka itu turut berkontribusi pada statistik Kabupaten Indragiri Hilir sebagai Kabupaten penghasil kelapa terbesar di Indonesia. Namun masa kejayaan perkebunan kela...

The Way of Mangrove

Gambar
  Ini bukan Na'vi dari klan Metkayina di film Avatar. Ini adalah masyarakat tradisional dan masyarakat adat yang benar-benar hidup di pesisir nusantara. Sama dengan Na'vi, mereka juga hidup harmonis dengan hutan mangrove dan laut. Mereka tinggal di sekitar hutan mangrove dan menjala ikan untuk pangan sehari-hari, persis di pesisir Pandora. Hutan dan laut adalah bagian dari identitas yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat pesisir. Seperti Klan Metkayina, sebagian dari mereka juga masih menjaga tempat keramat. Mereka percaya apabila alam dirusak itu akan membawa kesengsaraan untuk mereka. Ayo tidak menjadi "bangsa langit" yang mengancam ekosistem tempat tinggal masyarakat tradisional dan masyarakat adat nusantara. Ngomong-ngomong, mantap juga kayaknya ya kalau bikin program pengelolaan mangrove dan pesisir di Metkayina 😁