Melestarikan Mangrove, Memperkuat Resiliensi Masyarakat Pesisir: Pembelajaran Konservasi dari Indragiri Hilir
| Seorang nelayan kepiting bakau di Parit 18 memperlihatkan hasil tangkapannya. |
Walau terletak jauh dari pusat keramaian, rumah Andi Masrapi (45 tahun) jarang sekali terlihat sepi. Selain sebagai tempat tinggal, rumah panggung berbahan kayu di Parit 18 Kelurahan Sapat tersebut juga difungsikan sebagai tempat menjalankan usaha oleh pemiliknya. Pria yang biasa disapa Rapi ini menjalankan usaha warung kelontong dan pengumpul hasil perikanan di rumah tersebut. Kedua usaha itu menjadi mata pencaharian utamanya setelah kebun kelapa miliknya di lokasi tersebut mulai rusak.
Sampai tahun 2015 perkebunan
kelapa di Parit 18 Kelurahan Sapat, Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau,
masih produktif. Menurut pengakuan Rapi, setiap kali panen, kebun kelapa
miliknya mampu menghasilkan puluhan ribu sampai ratusan ribu butir kelapa. Angka
itu turut berkontribusi pada statistik Kabupaten Indragiri Hilir sebagai
Kabupaten penghasil kelapa terbesar di Indonesia.
Namun masa kejayaan perkebunan kelapa di Parit 18 Kelurahan Sapat kini tinggal kenangan. Naiknya muka air laut merusak ratusan hektare kebun kelapa rakyat di lokasi tersebut. Tanggul buatan sudah tidak cukup kuat menahan intrusi air asin yang masuk hingga ke tanah yang dulunya daratan. Pohon-pohon kelapa mati. Kurang dari sepuluh tahun, pemandangan nyiur nan hijau di lahan itu kini berganti menjadi tegakan pokok kelapa yang mati kering.
Sebagian besar masyarakat yang dulunya tinggal menetap di Parit 18 kemudian meninggalkan lokasi tersebut. Ada yang pindah ke pusat Kelurahan Sapat, ada pula yang menuju ke Tembilahan, ibukota Kabupaten Indragiri Hilir, untuk mencari penghidupan baru.
| Nelayan mendayun perahu sampan di bekas kebun kelapa yang terendam air laut di Parit 18 Kelurahan Sapat |
Tapi Rapi dan keluarga bersama
sebagian kecil masyarakat tetap bertahan di sana. Ia masih berharap dapat
mempertahankan kebun kelapanya yang tersisa, sembari mengupayakan mata
pencaharian baru.
“Kami pasrah sajalah sudah.
Istilahnya kan, rejeki itu sudah diatur oleh Tuhan,” terang Rapi singkat
menanggapi rusaknya lahan perkebunan kelapa miliknya.
Namun di balik kepasrahannya,
Rapi dan masyarakat yang bertahan di Parit 18 kini menjalankan mata pencaharian
baru yang mungkin tidak pernah mereka sangka sebelumnya. Kini Rapi menjadi
pengumpul hasil perikanan berupa kepiting bakau (Scyla), lokan (Geloina erosa)
serta berbagai jenis ikan dan udang. Sedangkan masyarakat lainnya beralih
menjadi nelayan skala kecil dengan hasil tangkapan yang ditampung oleh Rapi.
Hal itu bisa terjadi karena
perubahan lanskap perkebunan kelapa di Parit 18 yang terendam. Secara perlahan
perkebunan kelapa di Parit 18 Kelurahan Sapat yang telah terpengaruh pasang
surut mulai ditumbuhi komunitas mangrove. Tumbuhnya mangrove turut menghadirkan
berbagai biota perikanan yang bernilai ekonomis. Masyarakat yang tadinya
berprofesi sebagai petani kelapa beralih menjadi nelayan tangkap. Alam yang
rusak dan manusia di dalamnya menemukan keseimbangan baru.
Perubahan bentang alam perkebunan
kelapa menjadi hutan mangrove di Parit 18 juga memberikan pengetahuan baru bagi
Rapi dan masyarakat setempat. Bahwasanya kehadiran mangrove di bekas kebun
kelapa yang tenggelam membawa berkah tersendiri bagi masyarakat nelayan di
sana. Lebatnya mangrove yang tumbuh berbanding dengan banyaknya hasil perikanan
yang bisa dimanfaatkan oleh mereka.
Atas dasar pengetahuan tersebut,
masyarakat di Parit 18 Kelurahan Sapat menyambut baik kehadiran Program Blue
Forests yang dilaksanakan oleh Konsorsium Mitra Pesisir Biru. Dalam konsorsium
ini Yayasan Hutan Biru berkolaborasi bersama Yayasan Mitra Insani dan Yayasan
Pesisir Lestari, dengan dukungan pendanaan dari UKAID-ICF (International
Climate Fund). Program yang dijalankan bertujuan untuk melindungi dan memulihkan
hutan mangrove dan jasa eksosistemnya, serta mencegah pelepasan emisi karbon
dan mendukung mata pencaharian yang aman bagi masyarakat pesisir. Salah satu
lokasi kerjanya adalah pada ekosistem mangrove dan pesisir di Kabupaten
Indragiri Hilir, Provinsi Riau.
Parit 18 di Kelurahan Sapat kini
menjadi lokasi pembelajaran untuk pengembangan mata pencaharian yang bertumpu
pada pelestarian sumber daya alam, yaitu ekosistem mangrove. Bersama masyarakat
setempat, Yayasan Hutan Biru melaksanakan kegiatan rehabilitasi mangrove di
bekas kebun kelapa yang terendam (terintrusi) air laut. Sementara itu kegiatan
pendataan potensi kepiting bakau dan perlindungan daerah tangkapnya dilaksanakan
oleh Yayasan Mitra Insani dengan dukungan teknis dari Yayasan Pesisir Lestari.
| Proses menandai lokasi dan membangun kesepahaman dengan pemilik lahan. |
Tahapan rehabilitasi mangrove seluas 6,8 hektare di bekas kebun kelapa di Parit 18 Kelurahan Sapat berlangsung sejak Juni 2022. Dimulai dengan persiapan sosial berupa membangun kesepahaman bersama dengan pemilik lahan. Proses membangun kesepahaman untuk pelaksanaan rehabilitasi mangrove di bekas kebun kelapa di Parit 18 berjalan relatif lancar. Hal ini dapat terjadi karena pemahaman tentang pentingnya ekosistem mangrove untuk mendukung mata pencaharian masyarakat nelayan sudah terbangun pada diri pemilik lahan dan masyarakat setempat.
Rapi sebagai pemilik lahan yang akan direhabilitasi menyerahkan lahannya secara sukarela, tanpa kompensasi materil. Rapi juga turut mengkoordinir nelayan setempat untuk terlibat dalam pelaksanaan rehabilitasi. Tahapan sosial berupa mengamankan aspek tenurial semacam ini selalu menjadi perhatian Yayasan Hutan Biru dalam setiap pelaksanaan rehabilitasi mangrove.
| Baseline survey untuk menilai kondisi lokasi yang akan direhabilitasi. |
Langkah selanjutnya, dilaksanakan baseline survey untuk menilai aspek ekologi, hidrologi, dan gangguan pada lahan yang akan direhabilitasi. Kegiatan ini bertujuan untuk mengumpulkan informasi tentang kondisi ekologi, hidrologi, dan gangguan pada lokasi yang akan direhabilitasi, sebagai acuan penyusunan desain rehabilitasi sekaligus untuk mendapatkan data kondisi awal (T0) sebelum rehabilitasi dilakukan.
Berdasarkan hasil baseline survey, disusun desain rehabilitasi
secara partisipatif bersama para pihak dan semua unsur di sekitar lokasi,
termasuk pemerintah kelurahan, praktisi rehabilitasi mangrove yaitu Lembaga
Pengelola Hutan Desa, serta pemilik lahan dan masyarakat setempat. Pada sesi
diskusi ini, disepakati beberapa metode rehabilitasi, yaitu, penanaman benih,
penaburan benih, pemindahan bibit (wilding),
serta penyemaian dengan media polybag. Sedangkan jenis mangrove yang disepakati
adalah pedada (Sonneratia caseolaris)
dan api-api (Avicenia alba). Kedua
jenis mangrove ini dipilih dengan alasan kesesuaiannya dengan hutan referensi
di sekitar lokasi sebagai penyuplai benih dan bibit.
Implementasi rehabilitasi mangrove di bekas kebun kelapa Parit 18 Kelurahan Sapat dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama berlangsung pada 15-18 September 2022, dan tahap kedua pada 29 November-1 Desember 2022. Kegiatan ini melibatkan 40 orang yang merupakan masyarakat setempat yang dikoordinir oleh pemilik lahan. Para peserta rehabilitasi berbagi peran dalam berbagai tahapan implementasi ini, diantaranya, perbaikan/restorasi hidrologi di lokasi, penyiapan benih dan bibit, pembersihan lahan faktor gangguan berupa tumbuhan piyai (Acrostichum sp.), penaburan dan penanaman benih/bibit, serta penyemaian benih. Kesemuanya dilaksanakan berdasarkan desain rehabilitasi yang telah disepakati.
| Dua perempuan nelayan terlibat menyemaikan benih mangrove di sekitar lokasi rehabilitasi (Moulidya PN./Blue Forests) |
Tiga bulan pasca implementasi rehabilitasi, dilaksanakan monitoring secara saintifik dan partisipatif. Monitoring partisipatif dilaksanakan dengan metode yang sama dengan Survey baseline, dengan membandingkan hasil sebelum dan sesudah rehabilitasi. Sementara monitoring partisipatif dilaksanakan dengan metode yang lebih sederhana dengan melibatkan masyarakat dan pemilik lahan yang ikut pada proses rehabilitasi.
Hasil monitoring menunjukkan perkembangan positif
pada lahan yang telah direhabilitasi. Ditunjukkan dengan peningkatan nilai
kerapatan pada jenis Avicennia alba dan Sonneratia caseolaris.
Hal tersebut mengindikasikan benih dan bibit yang diimplementasikan pada saat
rehabilitasi berhasil tumbuh dengan baik. Kegiatan monitoring semacam ini akan
dilaksanakan secara berkala dalam satu tahun ke depan, dengan anggapan masa
tersebut merupakan waktu krusial dalam tahap pertumbuhan mangrove.
Selain sebagai upaya untuk melestarikan ekosistem
mangrove, rehabilitasi yang dilaksanakan di Parit 18 Kelurahan Sapat juga
dijadikan sebagai sarana pembelajaran bagi masyarakat setempat yang terlibat.
Samsuri (28 tahun), seorang nelayan tangkap, mengaku lebih paham tahapan dalam
pelaksanaan rehabilitasi mangrove. “Penting untuk melakukan pembersihan lahan
terlebih dulu sebelum menanam. Saya juga menjadi paham mana bibit yang lebih
unggul dan cocok untuk ditanam di daerah kami ini, ” kata pria yang menetap di
sekitar Parit 18 ini.
Tata cara pemilihan dan perlakuan bibit mangrove juga dirasa menjadi pembelajaran baru oleh para peserta. “Pengalaman mengikuti kegiatan rehabilitasi ini, kami menjadi tahu cara membibitkan jenis api-api. Sebelumnya tidak pernah melakukan. Tapi sekarang sudah kita lakukan dan terlihat hasilnya yang kita sudah tanam di lokasi,” jelas Rapi.
| Proses pemindahan bibit mangrove yang telah disemaikan sebelumnya ke lokasi tanam. |
Sementara itu, harapan untuk keberhasilan rehabilitasi mangrove untuk mendukung penghidupan masyarakat nelayan juga diutarakan oleh para peserta. Mala (27 tahun), seorang perempuan nelayan yang turut terlibat, berharap mangrove yang ditanamnya dapat tumbuh dengan baik. “Supaya kepiting juga tumbuh lebih banyak. Jadi enak nanti kami nelayan mengusahakan.”
Upaya rehabilitasi mangrove di Parit 18 memang belum berhasil sepenuhnya. Masih dibutuhkan proses memantau dan menjaga lokasi yang telah diintervensi untuk memastikan pertumbuhannya. Namun harapan yang dibarengi dengan pengetahuan akan pentingnya mangrove untuk penghidupan sudah mulai tumbuh pada diri masyarakat di sana. Bahwa kelestarian ekosistem mangrove akan memperkuat resiliensi masyarakat pesisir. Daya lenting yang tidak mudah patah ketika menghadapi perubahan iklim yang dirasakan semakin nyata.
Komentar
Posting Komentar