Resiliensi
Resilience is defined as the dynamic ability to adapt successfully in the face of adversity, trauma, or significant threat. - Sarah R Horn
Saya mengenal satu kata saat mulai bekerja di dunia konservasi-- yang lantas menjadi kata favorit saya, yaitu resiliensi (resilience).
Dalam dunia konservasi, kata resiliensi menggambarkan suatu keadaan yang memungkinkan suatu sistem (lingkungan, kampung, ekosistem, dll) dapat beradaptasi dari perubahan atau ancaman yang terjadi dalam waktu cepat. Ancaman tersebut bisa berupa dampak perubahan iklim, bencana, atau wabah penyakit. Secara singkat kita menyebutnya tangguh.
Biar lebih jelas, saya ilustrasikan keadaan resiliensi itu dari apa yang pernah saya lihat langsung:
Saat pandemi Covid 19 lalu, dunia begitu menjadi panik. Akses ditutup, rantai logistik menjadi tersendat, dan perekonomian seperti berhenti sementara. Dampak besarnya dirasakan merata oleh masyarakat. Jangankan mendapatkan penghasilan ekonomi, sekadar mengakses bahan pangan saja sulit. Kita menyaksikan kepanikan tersebut dalam berbagai rupa: perkantoran diliburkan, rumah sakit pebuh, dan orang-orang yang berbelanja secara panik. Pemandangan seperti di film-film bisa kita saksikan di dunia nyata.
Saya sedang berada di Kabupaten Asmat, Papua, saat itu. Saya melihat dampak kesulitan logistik itu tidak sampai melanda kampung-kampung yang masih kuat sistem adatnya. Saat yang lain kesulitan mendapatkan bahan pangan, di Kampung Yepem, yang bolak balik saya kunjungi, tidak marasakannya.
Ini karena sumber-sumber pangan masyarakat adat di Asmat masih terjaga lewat mekanisme adat. Hutan manyediakan sagu dan daging dari hewan buruan. Sementara laut masih bisa diambil hasil perikanannya nyaris setiap hari. Bahkan masyarakat masih bisa menjual sebagian hasil alamnya untuk memenuhi kebutuhan pangan di pusat-pusat kota. Alam yang lestari menjadi jaring pengaman sosial bagi masyarakat adat Kampung Yepem kala itu.
Contoh lain resiliensi saya lihat di Parit 18, Kelurahan Sapat di Kabupaten Indragiri, Provinsi Riau. Ribuan hektare kebun kelapa di pesisir kabupaten Indragiri Hilir terendam dalam hanya beberapa tahun akibat kenaikan muka air laut. Akibatnya banyak pekebun yang kehilangan mata pencaharian dan menciptakan eksodus, perpindahan massal masyarakat yang rumah dan sumber perekonomiannya hilang akibat dampak dari perubahan iklim tersebut.
Tapi seorang di antara meraka, Andi Masrapi namanya, tetap bertahan di Parit 18 Sapat. Ia menolak tumbang bersama pokok-pokok kelapanya. Lahan perkebunan kelapa yang terendam berubah menjadi hutan mangrove. Rapi lantas melihat peluang perekonomian dari situ.
Rapi dan masyarakat yang bertahan di Parit 18 kini menjalankan mata pencaharian baru yang mungkin tidak pernah mereka sangka sebelumnya. Kini Rapi menjadi pengumpul hasil perikanan berupa kepiting bakau, serta berbagai jenis ikan dan udang. Sedangkan masyarakat lainnya beralih menjadi nelayan skala kecil dengan hasil tangkapan yang ditampung oleh Rapi.
Hal itu bisa terjadi karena perubahan lanskap perkebunan kelapa di Parit 18 yang terendam. Secara perlahan perkebunan kelapa di Parit 18 Kelurahan Sapat yang telah terpengaruh pasang surut mulai ditumbuhi komunitas mangrove. Tumbuhnya mangrove turut menghadirkan berbagai biota perikanan yang bernilai ekonomis. Masyarakat yang tadinya berprofesi sebagai petani kelapa beralih menjadi nelayan tangkap. Alam yang rusak dan manusia di dalamnya menemukan keseimbangan baru.
Rapi bersama anggotanya di Parit 18 Sapat menemukan bentuk resilliensi dari lebatnya mangrove di bekas kebun kelapanya. Ekosistem yang berubah di sana menjadi penopang penghidupan masyarakat secara berkelanjutan. Kini mereka menjalankan mata penvaharian dengan mengambil hasil alam (hasil perikanan) tanpa merusak alam tersebut.
Dari dua contoh itu saya menemukan esensi hubungan resilisiensi dalam kelestarian alam. Bahwasanya kelestarian alam akan memperkuat resiliensi sistem di dalamnya. Daya lenting yang tidak mudah patah ketika menghadapi perubahan di bumi yang dirasakan semakin nyata.
Komentar
Posting Komentar