Kembali ke Masa Main di KBJ

 


“Hai kawan, masihkah kita ada

di jalan yang sama setelah sekian lama?”

Buka – Pure Saturday


Circa Maret 2014. Dengan menumpang pete-pete Daya, siang itu saya menuju ke Kedai Buku Jenny. Alamat mereka saat itu masih di Perumahan Budi Daya Permai. Beberapa hari sebelumnya saya sudah membuat janji untuk mewawancarai Bobhy dan Sawing, para pendiri KBJ.

Sempat khawatir karena langit sedang mendung, saya beruntung bisa tiba di KBJ sebelum hujan. Saya disambut oleh Bobhy menyusul kemudian Sawing. Teh hangat membuka basa-basi di antara kami. Saya mengeluarkan catatan berisi daftar pertanyaan dan alat perekam suara. Selanjutnya adalah obrolan seputar KBJ yang akan terus saya kenang sebagai wawancara terbaik dalam perjalanan karir jurnalis saya yang singkat.

Wawancara tersebut menjadi menarik bagi saya karena dari situ saya jadi tahu ide besar berdirinya Kedai Buku Jenny. Lebih dari sekadar turut menggairahkan literasi di Makassar, ada semangat untuk membangun ekosistem atau apa yang kita sebut saat ini sebagai skena. Saling keterhubungan antar orang-antar ide dalam laku budaya keseharian itu penting untuk dijembatani.

Walaupun sebenarnya saya sok-sok-an mengerti saja saat itu. Wawancara di tahun 2014 itu lebih tepat disebut kuliah Pengantar Ilmu Hipster dari dua orang yang menggebu-gebu kepada saya, seorang mahasiswa yang sedang berusaha lepas dari dunia kampus.

Bagaimana tidak, jawaban yang keluar dari Bobhy dan Sawing saat itu rasanya ingin saya catat tebal-tebal lantas dikulik lebih lanjut di rumah. Mulai dari ide kesetaraan oleh Jenny sampai “Space of Hope”-nya David Harvey. Dari seruan kewarasan massal Homicide sampai tema khotbah dan perang. Bisa dibayangkan betapa berbahayanya wawancara (maaf, kuliah Pengantar Ilmu Hipster) sore itu.

Tapi benar saja. KBJ adalah semua yang keluar dari mulut Bobhy dan Sawing saat itu. Toko buku sekaligus perpustakaan komunitas ini adalah tempat paling inklusif di Kota Makassar. Ia pernah dan bisa didatangi oleh siapa saja. Mulai dari orang tua sampai anak-anak, akademisi hingga seniman, musisi bergenre pop, rock, lebih-lebih akustik-folk, semua bisa bermain di KBJ.

KBJ juga terbuka dengan berbagai diskursus. Memang benar ia sangat sering membicarakan seputar skena musik kota Makassar dan sekitarnya. Tapi saya masih ingat pula, KBJ pernah jadi pemantik untuk tema-tema lainnya, semisal sastra, kemanusian, aktivisme, sampai isu gender dan pangan. Semua dibicarakan dengan sangat antusias di KBJ.

Hal unik lainnya, dan menurut saya menjadi prestasi tersendiri bagi KBJ, adalah mereka bisa mengemas kegiatan yang mempertemukan sektor yang selama ini sulit dibayangkan untuk bertemu: literasi yang terkesan serius dan musik yang bercitra senang-senang semata. Lewat KBJamming, acara bulanan mereka saat itu, semua itu ternyata bisa terjadi. Tema diskusinya seputar isu perkotaan dan kewargaan. Kurang serius apa coba itu. Tapi semua peserta yang datang ya menyimak. Tidak jarang terjadi interaksi yang intens. Tapi saat musik dimainkan semua turut menikmati. Semua ikut bergoyang bahkan terkadang menjadi liar dalam pusaran moshpit dadakan.

Saya ingat, pernah KBJamming dihelat untuk memperingati hari lahir sastrawan Pramoedya Ananta Toer. Tentu kita tahu bersama karya-karya Pram bisa dikategorikan sebagai karya sastra yang serius atau katakanlah berat. Pada siang terjadi diskusi dan pembacaan karya Pram yang dilaksanakan secara serius dan khidmat. Tapi masuk sore menjelang malam, halaman KBJ berubah menjadi arena pogo. Salah satu band yang tampil hari itu adalah Speed Instinct, unit rap rock andalan kota Makassar. Puncaknya pada saat mereka meng-cover lagu Killing In The Name dari Rage Againts the Machine. Tiba-tiba puluhan penonton berkerumun di depan garasi yang mendadak berubah menjadi panggung. Tidak peduli suara sound system kurang maksimal, semua ikut melompat dan saling menubrukkan badan. Keriaan mudah sekali tercipta di KBJ.

Penampil lain KBJamming yang juga akan terus dikenang menurut saya adalah Next Delay. Rasanya band ini lah yang paling sering tampil di KBJamming. Ya karena para personilnya memang awak KBJ juga. sama dengan Speed Instinct,  Next Delay menempel di kepala saya juga karena sebuah lagu cover. Jika Speed Instinct saya ingat lekat dengan Rage Againts the Machine, band indiepop ini identik dengan Pure Saturday. Apalagi satiap mereka membawakan lagu Kosong, jamaah KBJamming pasti akan langsung sing along. Tak ayal tiap mereka tampil pasti diminta membawakan lagu tersebut.

temukan diri dalam dunia…” Sungguh nyanyian massal yang akan terus dirindukan dari sebuah lorong buntu di Kedai Buku Jenny.

Begitulah KBJ. Dengan segala kesederhanaannya, ia menjadi ruang bertemunya orang dengan berbagai macam ketertarikan dan gagasan. Dalam taraf tertentu, saya kira KBJ turut berkontribusi dalam membangun ekosistem kebudayaan di Kota Makassar hari ini. Sudah semestinya ruang-ruang alternatif serupa KBJ terus dijaga keberadaannya. Ia penting untuk mengimbangi diskursus perkotaan yang semakin ke sini semakin banal.

Selamat ulang tahun yang kesepuluh buat Kedai Buku Jenny. Selamat menjadi satu dekade. Dari jauh saya mengirimkan harapan semoga KBJ tetap menebar manfaat dan kebahagian dalam kesederhanaan. Dan semoga segera kita kembali berada di jalan yang sama, agar bisa main di KBJ lagi.

“datanglah

kita kan slalu terbuka

raihlah tangan terbuka.”


PS: tulisan ini dibuat untuk menyambut ulang tahun kesepuluh Kedai Buku Jenny. Buku "Hai, Kawan Masihkah Kita di Jalan yang Sama Seteleh Sekian Lama: Kumpulan Catatan dan Ingatan Tentang Kedai Buku Jenny dapat diunduh gratis di sini

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengawasan dan Monitoring Mangrove Berbasis Masyarakat: Pembelajaran dari Lanskap Mimika-Asmat dan Indragiri Hilir

Resiliensi

The Way of Mangrove