Menjaga Hutan dengan Memasak
Saat berkunjung ke Festival
Lembah Baliem tahun 2017 lalu, secara tidak sengaja saya berkenalan dengan Martin
Yesaya Himam dari Komunitas Papua Jungle Chef. Awalnya saya kira komunitas ini
sekadar tenant food and bavarage
biasa saja yang hadir di festival budaya terbesar di Papua tersebut. Tapi
setelah mengobrol lebih jauh, ternyata mereka memiliki misi mulia di balik
aktivitasnya.
Papua Jungle Chef merupakan
komunitas yang aktif mengangkat isu makanan lokal Papua. Mereka mengolah bahan organik
yang diambil dari hutan menjadi makanan yang dapat diterima oleh masyarakat
luas, terutama wisatawan. “Kami biasa sajikan kepada turis yang datang ke
Wamena, baik itu turis lokal maupun manca negara,” kata Martin.
Beberapa bahan lokal yang biasa
diolah Papua Jungle Chef, menurut Martin, antara lain keladi, ubi jalar, dan
singkong. Ketiganya merupakan makanan pokok masyarakat pegunungan tengah Papua.
“Beberapa masakan yang biasa kami bikin itu stik keladi atau sup keladi. Ubi jalar
bisa jadi bahan untuk bikin pizza. Kalau singkong bisa jadi bahan dasar untuk
bikin lumpia dengan isian daging. Turis-turis suka itu. Yang sudah sering
datang biasa langsung pesan kepada kami.”
Kegiatan Papua Jungle Chef memang
bukan hanya masak-memasak. Mereka dengan pandai mengaitkan atraksi kuliner
dengan turisme dan kampanye pelestarian hutan. Martin dan beberapa anggota
Papua Jungle Chef yang bekerja sebagai pemandu wisata di Wamena, Kabupaten
Jayawijaya, rutin mengantar turis untuk tracking
dengan melintasi hutan dan kampung-kampung. Di sana mereka
memperkenalkan tradisi masyarakat setempat seperti ritual bakar batu dan cara
hidup tradisional lainnya.
Kepada masyarakat di
kampung-kampung yang biasa mereka singgahi, Martin dan kawan-kawannya
menyampaikan pentingnya mempertahankan kelestarian hutan. Mereka juga aktif
mengajak generasi muda Papua untuk menemukenali kekayaan tradisi pangan mereka.“Hutan
itu dapur kita, restoran kita. Kalau mau makanan kita terus ada, hutan juga
harus terus ada.”
***
Berikut kutipan wawancara saya
dengan Martin Yesaya Himam dari Pupua Jungle Chef.
Apa itu Papua Jungle Chef?
Awalnya sebenarnya kita tidak
punya pemikiran untuk membuat komunitas Papua Jungle Chef. Tetapi karena kami
bekerja di hutan, hutan itu adalah restoran kami, tempat kami bekerja, tempat
mencari uang dan yang lain sebagainya itu di hutan. Jadi kami bentuk satu
komunitas terus kami kasi nama Papua Jungle Chef. Dan pada saat kami bekerja
itu, kami mengantar jalan turis-turis, lokal maupun manca negara. Biasanya kami
tracking ke hutan-hutan dan
kampung-kampung. Dan makanan-makanan yang ada di alam situ, itu yang kami olah
menjadi makanan yang kualitasnya lebih di atas lagi. Itu disajikan kepada para
turis. Contohnya macam keladi kita bisa jadikan stik, ubi jalar kita bisa bikin
pizza, terus singkong kita bisa bikin jadi lumpia dengan isian daging-daging di
dalamnya.
Lalu apa lagi kegiatan kawan-kawan di Papua Jungle Chef?
Selain ikut pameran seperti ini,
kami biasa diundang oleh chef-chef dari berbagai daerah. Kami pernah diajak
mengikuti Ubud Food Festival di Bali. Pernah juga di Biak dan di Merauke. Kami
diundang untuk berbagi ilmu tentang makanan-makanan organik. Karena memang
bahan kami itu harus organik dan berasal dari hutan.
Kalau kegiatan penyadartahuan kepada masyarakat setempat, misalnya
kepada masyarakat lokal yang bersentuhan langsung dengan hutan, tentang
pentingnya menjaga hutan untuk keberlangsungan makanan lokal, apakah itu
termasuk bagian dari kegiatan Papua Jungle Chef?
Ya, itu juga termasuk dalam kegiatan
di komunitas kami. Jadi di seluruh Papua kami punya link di masing-masing tempat. Mulai dari Raja Ampat, Jayapura,
Wamena, Merauke. Di masing-masing tempat tersebut kami biasa turun ke
kampung-kampung dan hutan-hutan tempat masyarakat tinggal. Di sana kami melakukan
demo masak sekaligus mengajak masyarakat untuk mengenali bahan makanan yang
berasal dari hutannya. Penting untuk kita menjaga hutan agar bahan makanan kita
ini ada terus. Itu yang kami sampaikan kepada masyarakat.
Tadi disebutkan komunitas ini ada karena aktivitas anggotanya di hutan.
Bisa dijelaskan seberapa penting hubungan Papua Jungle Chef dengan keberadaan
hutan? Apakah ada kekhawatiran akan rusaknya hutan yang banyak terjadi di Papua
saat ini?
Kalau dibilang khawatir, memang
kita sangat khawatir. Jangan sampai makanan-makanan lokal kami ini jadi hilang.
Maka dari itu kami mau kembangkan makanan ini. Supaya turun-temurun makanan ini
tetap kita pertahankan. Kalau mau makanan ini terus ada, hutan juga harus terus
ada.
Kalau untuk memasarkan makanan olahan ini bagaimana caranya?
Kami lebih banyak mengaitkan ini
dengan turisme. Bagaimana makanan ini yang biasa dikonsumsi orang lokal, kita
olah menjadi makanan yang sesuai dengan selera turis. Tapi biasa ada juga turis
yang ingin mencoba makanan yang rasanya asli. Biasa itu masyarakat sini yang
olah dengan cara budaya mereka. Misalnya harus bakar, rebus-rebusan. Tapi kalau
mau dapat rasa yang lebih bisa datang ke Papua Jungle Chef.
Bagaimana Papua Jungle Chef berperan dalam mengembangkan pariwisata
Papua? Adakah hal spesifik yang dilakukan?
Ada. Contohnya saya yang bekerja
di Honaistay Soroba, saat turis-turis datang menginap di sana kami layani
mereka dengan cara menyajikan makanan hasil karya anggota Papua Jungle Chef. Di
sana kami juga melatih anak muda lokal untuk terlibat di komunitas ini. Jadi
mereka bisa terlibat sekaligus bekerja. Biasanya sekaligus sebagai pemandu
wisata.
Bagaimana cara mengajak pemuda lokal untuk terlibat aktif untuk peduli
dengan hutan dan makanan lokal mereka?
Salah satu pemuda yang saya ajak
ini namanya Chris, dia jadi asisten saya. Dia saya latih untuk kembali mengenal
makanan-makanan lokal, makanan yang berasal dari turun-temurun. Jangan sampai
makanan-makanan itu jadi hilang. Jadi sampai sekarang kami bisa lihat hasilnya
sudah ada beberapa pemuda yang bisa mengolah makanan-makanan lokal disini.
Kalau sama saya sendiri sudah ada empat orang yang saya ajak bekerja bersama
saya.
Ke depannya apakah ada rencana untuk lebih memperluas keanggotaan Papua
Jungle Chef?
Iya pasti. Kami juga berencana
untuk mengajak ibu-ibu, mama-mama, pemuda, juga kalau perlu bapak-bapak. Kami
mau sampaikan kepada mereka jangan sampai makanan-makanan ini sampai hilang, dilupakan.
Caranya bagaimana? Kita harus ikut aktif menjaga kelestarian hutan sebagai
sumber makanan kita. Ini yang kami coba kembangkan terus.
Komentar
Posting Komentar