Menjaga Hutan, Menghidupkan Adat
Pagi di Kampung
Yepem baru saja dimulai. Semburat sinar mentari mulai menampakkan
diri, menembus dedaun di rimbun pepohonan. Kokok ayam dan kicau burung-burung
dari hutan sekitar saling bersahutan. Panggilan alam tersebut menjadi semacam alarm yang membangunkan masyarakat
Kampung Yepem. Sebelum fajar naik
sempurna, aktivitas sudah mulai terlihat di sekeliling kampung; anak-anak mandi
di sungai, nelayan mulai menyalakan mesin perahunya – ada pula
yang tampak sudah mendayung perahu menuju laut, dan atap-atap rumah yang
terbuat dari daun sagu mulai mengepulkan asap dari dapur. Denyut
kehidupan masyarakat Kampung Yepem seakan seirama dengan alam sekitarnya.
Yepem adalah
sebuah kampung yang terletak di Distrik Agats, Kabupaten Asmat, Provinsi Papua.
Jaraknya hanya sekitar tiga puluh menit perjalanan dengan
menggunakan perahu bermotor dari Kota Agats, ibukota Kabupaten Asmat. Akses
yang cukup dekat dengan pusat kabupaten memberi keuntungan sekaligus tantangan
tersendiri bagi Kampung Yepem dalam mempertahankan adat juga hutan mereka.
Dalam lanskap yang lebih luas, masyarakat Suku Asmat yang tersebar di 221 kampung
menghadapi tantangan serupa dengan dinamikanya masing-masing. Bagaimana
mempertahankan dua unsur paling penting dalam hidup Orang Asmat di tengah
pesatnya pembangunan dan semakin terbatasnya sumber daya.
Adat dan hutan
menjadi dua hal vital dan saling bergantung dalam kehidupan Orang Asmat. Tanpa
kedua unsur ini Suku Asmat tidak akan pernah ada. Atau jika keduanya rusak,
tentu “Asmat” hanya akan menjadi nama mati yang kehilangan maknanya. Adat Suku
Asmat tumbuh dan berkembang di daerah yang didominasi oleh kawasan hutan.
Sebaliknya, kelestarian hutan di bagian selatan Papua dapat terus terjaga lewat praktik ataupun ritual
dalam kepercayaan Orang Asmat.
Dalam alam
kepercayaan Orang Asmat, pohon merupakan materi pembentuk orang pertama atau
leluhur mereka. Para leluhur inilah yang kemudian menghidupkan adat Suku Asmat
yang bertempat di sebagian pesisir selatan Papua. Hikayat ini terus hidup dan
termanisfestasi dalam kegiatan keseharian yaitu mengukir. Lewat seni ukir, masyarakat Asmat terus menjaga adat
yang menjadi warisan leluhur. Sebuah ukiran Asmat bukan hanya benda mati yang
tanpa arti. Lebih dari sekadar karya seni, setiap ukiran Asmat diciptakan untuk menceritakan sebuah
peristiwa masa lalu ataupun keseharian
Orang Asmat.
Paskalis Wakat,
seorang seniman ukir dari Kampung Yepem, mengatakan kalau mengukir merupakan
jalan baginya dan Orang Asmat pada umumnya untuk menghormati alam dan
leluhur mereka. “hutan ini sudah
sangat banyak memberi manfaat bagi kehidupan kami sejak zaman leluhur. Mengukir adalah cara kami
menghormati leluhur dan hutan. Jadi kalau mengambil kayu untuk mengukir tidak
boleh sembarangan. Bahan
baku itu kami pilih kayu dari hutan yang benar-benar
sudah siap untuk
diukir, agar roh-roh leluhur memberikan keberuntungan kepada kami,” ujarnya
dalam sebuah diskusi yang kami lakukan di Kampung Yepem.
Saya pun penasaran lantas bertanya bagaimana
masyarakat Asmat menjaga
ketersedian bahan untuk mengukir jika hampir setiap hari mereka mengambilnya
dari hutan. “pohon besi dan pohon-pohon lainnya itu sebenarnya tumbuh alami di hutan.
Asalkan tidak ditebang habis mereka akan terus ada. Hidup lagi walaupun
tidak kita tanam,” terang Paskalis
yang pernah menjabat
sebagai Ketua Asosiasi Woyipits atau Persatuan Pengukir se-Kabupaten Asmat.
Jadi ada proses tebang pilih dan pengawetan lahan dalam laku
budaya mengukir ini. Bahan baku
yang dipakai untuk mengukir memang tidak boleh sembarangan. Masih menurut
Paskalis, jenis kayu yang biasa dipakai untuk bahan ukiran adalah kayu besi (Intsia
bijuga). Jenis kayu ini dianggap
yang paling kuat dan akan tahan lama setelah ukiran selesai dibuat. Usia
tumbuhnya pun harus yang dirasa sudah cukup. Para pengukir Asmat
biasanya menandainya dengan tanda-tanda fisik pada pohon. “Ciri-cirinya itu dahan dan rantingnya sudah mulai mengering atau patah. Biasa
juga pohon kayu besi yang sudah cukup umur akan jatuh (tumbang) sendiri ke
tanah. Nah, pohon-pohon itulah yang kami bawa ke kampung untuk diukir.”
Jika mengambil
kayu yang belum cukup umur maka akan percuma. Hasil ukiran tidak akan bertahan
lama. Kayunya akan mudah retak
atau patah sama
sekali. “bisa-bisa ukiran
belum selesai dikerjakan sudah rusak. Itu tandanya roh leluhur tidak senang,”
kata Paskalis sambil
tertawa kecil.
Selain dalam hal
mengukir, persentuhan adat Orang Asmat dengan hutan jelas terlihat dalam pembangunan sebuah jew atau rumah adat Suku Asmat. Bagi Orang Asmat, adanya
bangunan jew di
dalam kampung adalah sebuah keharusan. “Berdiri tegaknya jew di
dalam sebuah kampung adalah pertanda masih hidupnya adat istiadat di dalam
kampung itu,” kata Felix Owom, Kepala Kampung sekaligus Ketua Adat Kampung
Suwruw, salah satu kampung yang juga masuk dalam administrasi Distrik
Agats. Jew merupakan pusat segala kegiatan yang berkenaan
dengan kehidupan sosial maupun religius Orang Asmat. Di tempat inilah berbagai
permasalahan dibicarakan, mulai dari proses pengambilan keputusan sampai penyelesaian konflik adat
maupun administrasi pemerintahan kampung atau desa. Semua pesta dan ritual adat Suku Asmat juga dilaksanakan di dalam jew.
Secara
fisik jew merupakan
bangunan yang berbentuk persegi panjang dengan panjang sekitar lima puluh hingga delapan puluh meter. Itu makanya
banyak pula orang yang menyebut jew sebagai rumah panjang.
Lokasi pembagunan rumah adat ini biasanya berada di tepi kali. Hal ini
dimaksudkan agar letaknya strategis untuk memantau orang-orang yang masuk ke
dalam kampung. Pada masa perang suku, jew juga dijadikan
tempat untuk mengintai musuh. Saat ada aksi penyerangan dari pihak lawan,
Kepala Perang dan prajurit yang lengkap dengan senjata tombak dan panah sudah
siap menghadang.
Bahan baku untuk membangun jew seratus persen diambil dari
alam. Walau berbeda di masing-masing rumpun, pembangunan jew sangat
bergantung pada ketersedian kayu dari dalam hutan. Di kampung-kampung yang
termasuk dalam Rumpun Bismam misalnya, adat turunan dari para leluhur mereka
mensyaratkan jew harus terbuat dari kayu pow (mangrove
jenis Bruguiera gymnorrhiza), kayu jow (Bruguiera
parviflora), kayu sipat (Bruguiera sexangula), kayu juam atau
kayu putih (Camptostemon sp.) dan kayu pit (Dolicandron
spathaceae). Kayu pit yang memiliki diameter cukup besar
dipakai sebagai umpak atau tiang penyanggah bangunan. Sedangkan kayu pow merupakan
bahan utama yang digunakan untuk menyusun rangka jew, mulai dari
lantai, dinding, sampai rangka atap. Untuk memperkokoh bangunan, kayu juam dipakai
sebagai rangka tengah yang melintang dari ujung kiri sampai kanan. Kesemua
bahan bangunan tersebut diikat dengan menggunakan rotan hutan, tanpa
menggunakan paku sama sekali. Dengan segala pengalaman dan teknik turun-temurun
yang dipakai Orang Asmat, seluruh rangkaian kerangka jew tadi
akan berdiri dengan kokoh.
Setelah seluruh rangka jew terbentuk,
giliran lantai, dinding, dan atap yang dikerjakan. Lantai jew memanfaatkan
kulit kayu juam yang telah dikupas sebelumnya. Konsep
menggunakan semaksimal mungkin apapun yang diambil dari alam diterapkan disini.
Sementara untuk dinding dan atap harus menggunakan daun sagu (Metroxylon sagu)
atau biasa disebut daun rumbia. Jew kemudian dipercantik
dengan hiasan pisis atau pucuk daun sagu dan tikar tapin yang
terbuat dari pandan rawa yang dianyam. Setelah semua proses pengerjaan tersebut
selesai, jew pun siap digunakan.
Peresmian sebuah jew dilaksanakan dalam
sebuah ritual adat yang sakral sekaligus meriah. Bukan hanya masyarakat kampung
yang hadir, kerabat dan tamu dari luar kampung pun akan berdatangan dalam pesta
peresmian jew baru tersebut. Para Tetua Adat melantunkan
nyanyian adat dan memukul tifa di dalam jew sepanjang malam
hingga pagi. Bersamaan dengan itu bahan makanan dan seserahan adat terus
berdatangan ke dalam jew. Pada puncak perayaan, dilaksanakan pesta
goyang yang diikuti oleh masyakat dan tamu undangan. Ketentuan adatnya adalah
para lelaki bergoyang di dalam jew, sedangkan para perempuan
dan mama-mama bergoyang di luar rumah adat. Pesta goyang ini sekaligus juga
untuk mengukur kekokohan bangunan jew, apakah sudah cukup kuat
untuk digunakan dalam aktivitas adat sehari-hari.
Dalam sebuah pesta tentu tidak lengkap tanpa sajian makanan
khas. Beberapa hari sebelum dilaksanakannya pesta jew baru,
masyarakat kampung sudah masuk hutan untuk mengumpulkan bahan makanan. Bahan
makanan seperti sagu, buah-buah hutan, dan daging hewan buruan menjadi hantaran
wajib dalam pesta adat ini. Tapi kuliner yang paling disukai dan selalu diincar
adalah ulat sagu. Bakal kumbang sagu ini menjadi penganan wajib dalam setiap
pesta adat Suku Asmat, karena dipercaya sebagai makanan kesukaan para leluhur
mereka.
Tidak hanya dalam ritual adat, hubungan antara Orang Asmat
dengan hutan juga tercermin dalam aktivitas keseharian. Masyarakat Asmat sangat
bergantung pada alam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bisa dikatakan
mereka adalah bagian kecil dari masyarakat berburu dan meramu yang masih
tersisa, setelah sebagian besar masyarakat adat di nusantara tersisih dari
hutan yang menjadi ruang hidupnya.
Masuk hutan untuk mengumpulkan bahan makanan dan kebutuhan
lainnya dilakukan oleh masyarakat Asmat setiap hari. Di sana mereka memangkur
sagu yang merupakan makanan pokok masyarakat Papua yang menempati wilayah
dataran rendah hingga pesisir. Sagu yang tumbuh subur secara alami telah
menjadi penyedia kebutuhan karbohidrat masyarakat adat Asmat secara
turun-temurun. Karena tumbuh secara alami di hutan, sagu tidak perlu ditanam
dan dirawat secara khusus. Saat dibutuhkan, masyakakat tinggal mengambilnya di hutan
keluarga masing-masing.
“Sagu ini hadiah dari Tuhan dan leluhur untuk kami Orang
Asmat. Orang Asmat harus makan sagu! Sagu ini adalah harta bagi kami,” kata
Mama Natalia Desnam saat saya mengikuti aktivitasnya memangkur sagu di dusun
keluarganya di Kampung Kaye.
Tidak hanya sebagai penyedia makanan pokok, masyarakat adat
Asmat juga menjadikan hutan sebagai sumber protein hingga obat-obatan alami.
Masyarakat memenuhi kebutuhan protein mereka dari berburu hewan yang hidup liar
di hutan, seperti babi, buaya, dan berbagai jenis unggas. Berbagai jenis ikan
dan biota perairan lainnya juga dengan mudah didapatkan di kali dan pesisir
yang ekosistemnya masih terjaga dengan baik.
Tidak hanya mengambil hasil, masyarakat Asmat juga menjaga
betul keberlangsungan ekosistem hutan tempat hidup mereka. Guna menjaga
kelestarian alam, masyarakat Asmat menerapkan sistem konservasi tradisional
yang mewujud dalam berbagai kearifan lokal atau hukum adat. Hukum adat ini
telah turun-temurun menjaga hubungan harmonis antara manusia Asmat dengan alam
tempat tinggal mereka.
Masyarakat Asmat memposisikan alam bukan sebagai entitas
mati yang dapat diperlakukan semaunya. Mereka sadar betul kehidupan alam yang
sehat akan memberikan manfaat. Sebaliknya, jika alam rusak maka akan membawa
kesusahan. Maka lahir kemudian istilah “hutan adalah ibu” atau “hutan adalah
mama” yang populer di kalangan masyarakat adat di Papua. Artinya hutan itu
adalah penyedia makanan dan kebutuhan sehari-hari. Itu makanya penghormatan
kepada hutan dalam sistem adat masyarakat Asmat adalah bentuk timbal balik
kebaikan yang telah mereka rasakan selama ini. Dalam alam pikir masyarakat
Asmat, hutan beserta ekosistemnya bukan lagi sekadar ruang kosong, melainkan
bagian dari sejarah dan hidup mereka.
Tentu dari semua aktivitas keseharian dan laku budaya masyarakat adat Asmat, dapat kita lihat saling keterkaitan yang sangat erat antara hutan dan adat Orang Asmat. Kedua entitas ini tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Upaya masyarakat Asmat dalam menjaga kelestarian hutannya adalah juga usaha untuk terus menghidupkan adat yang sudah turun-temurun mereka jalankan.


Komentar
Posting Komentar