Merayakan Buku di Masa Pandemi
Pandemi Covid-19 betul-betul membuat semuanya menjadi serba ambyar. Kita dibuat harus menghadapi situasi yang tidak pernah kita sangka-sangka sebelumnya. Ada yang masih harus tetap beraktivitas di luar rumah, tapi dengan situasi yang tidak lagi sama. Ada pula yang terpaksa mesti berdiam diri di rumah untuk memutus mata rantai penyebaran virus.
Jaga jarak fisik dan sosial ini sungguh memberatkan. Kita yang terbiasa dengan riuh rendah keramaian dipaksa untuk beradaptasi dengan sepi, situasi yang semakin asing di era serba terhubung ini. Lalu kita merasa terasing. Tiba-tiba ada begitu banyak waktu yang entah ingin dihabiskan untuk apa lagi.
Tapi bukankah ini waktu yang tepat untuk menemui diri sendiri? Inilah saatnya untuk kita kembali pada apa yang sempat kita tinggalkan, membaca buku misalnya. Mari belajar pada orang-orang di masa lalu, mereka yang sungguh-sungguh berdamai dengan keterasingan lewat jalan merayakan buku.
***
Digambarkan dalam banyak riwayat sejarah bahwa para pendiri bangsa kita adalah seorang bibliofili, orang-orang yang sangat menyenangi buku. Bahkan saat dipenjara dan dalam masa pengasingan, kecintaan tersebut semakin menjadi-jadi. Sebut saja dua di antara mereka: Mohammad Hatta dan Ibrahim Datuk Tan Malaka.
Mohammad Hatta yang lahir di Bukit Tinggi, Sumatera Barat, pada 12 Agustus 1902 merupakan orang yang sangat terobsesi dengan buku. Bapak Koperasi Indonesia ini mulai mengoleksi buku saat melanjutkan Sekolah Dagang di Batavia (kini Jakarta), sekitar tahun 1919. Ia menguasai berbagai bahasa asing sehingga membuatnya dengan mudah melahap berbagai macam bahan bacaan di masa itu.
Era 1920-an dan seterusnya, pergerakan politik untuk menuntut kemerdekaan di tanah air memanas. Para aktivis yang berpikiran radikal banyak yang ditangkap. Mereka dipenjarakan dan diasingkan. Tidak terkecuali dengan Hatta. Saat mendekam di Penjara Glodok pada tahun 1934, ia menulis surat berisi kutipan yang kemudian masyhur hingga sekarang: "aku rela dipenjara asal bersama buku. Sebab dengan buku aku bebas."
Bahkan saat mulai diasingkan ke Banda Neira dan Boven Digoel, Hatta enggan berpisah dengan buku-bukunya. Total enam belas peti buku dibawa bersama Hatta saat masa pembuangan di Indonesia timur. Cerita ini diungkapkan oleh Meutia Hatta, anak pertama Bung Hatta. Bisa dibayangkan betapa repotnya bepergian dengan belasan peti berisi buku yang berat. Namun cinta Hatta pada buku melenyapkan semua bayangan tentang kerepotan tersebut.
Dalam pengasingan, selain membaca, Bung Hatta juga menulis buku. Salah satu hasil tulisannya pada masa itu adalah sebuah buku filsafat berjudul Alam Pikiran Yunani. Buku ini kemudian dijadikan mas kawin saat menikahi istrinya, Rahmi Rachim, pada tahun 1945, beberapa waktu setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia. Bung Hatta memang pernah berikrar bahwa ia tidak akan menikah sebelum Indonesia merdeka. Ikrar perjuangan yang sepertinya tidak akan bisa ditandingi oleh generasi saat ini.
Segendang sepenarian dengan Bung Hatta, Tan Malaka juga adalah seorang bibliofili parah. Buku nyaris selalu disebut dalam tiap babakan perjuangannya.
Lahir di Suliki, Sumatera Barat, 2 Juni 1897, pria bernama asli Ibrahim ini sebenarnya seorang pewaris tahta kerajaan bergelar Tan Malaka. Namun semua kenyamanan tersebut ia tinggalkan demi memperjuangan Indonesia yang terbebas dari penjahahan. Sebagian besar hidupnya dihabiskan dalam pengembaraan berkeliling dunia untuk menggalang revolusi kemerdekaan Indonesia.
Kegemaran Tan Malaka dalam membaca buku benar-benar tersalurkan saat menempuh Pendidikan di Belanda (1908-1919). Ia mengkhatamkan banyak buku bertema sosialisme dan komunisme, ideologi yang saat itu menjadi lawan tanding yang pas bagi kolonialisme yang sedang merebak. Buku-buku pengarang kiri semisal Karl Marx, Friederich Engles, Vladimir Lenin, dll, menjadi referensi utamanya. Tan Malaka semakin yakin pada ideologi ini setelah kesuksesan Revolusi Bolshevik di Rusia pada 1917.
Kembali ke Indonesia pada 1919, Tan Malaka menyaksikan secara langsung realitas penjajahan di negerinya. Ia pun memutuskan untuk berjuang secara langsung dengan bergabung dengan berbagai organisasi politik. Karena sikap radikalnya tersebut ia pun ditangkap dan diasingkan ke Belanda. Bukannya kapok, Bapak Republik Indonesia ini malah memilih bergerilya ke berbagai negara untuk menggalang dukungan internasional. Sebelum kembali ke Indonesia untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan.
Dalam pengembaraannya, buku selalu menjadi teman setia bagi Tan Malaka. Ia dikenal sebagai pembaca yang loyal sekaligus royal. Dalam Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika (1943), buku yang merupakan magnum opus, karya terbesarnya, ia menyebutkan bahwa: “…mengunjungi toko buku adalah pekerjaan yang tetap dan dengan giat saya jalankan… Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi…” Bisa dibayangkan betapa bucinnya Tan Malaka terhadap benda bernama buku.
Tan Malaka juga banyak menulis buku-buku pemikiran yang kemudian menginspirasi pejuang lainnya. Pada 1925, saat bertugas sebagai agen Comintern Asia Tenggara di Kanton, China, ia menulis buku berjudul Naar de Republiek Indonesia atau Menuju Republik Indonesia. Buku ini berisi gagasan Tan Malaka tentang masa depan Hindia Belanda (saat ini Indonesia). Untuk pertama kalinya frasa “Republik Indonesia” digunakan ya di dalam buku ini.
Padangan Tan Malaka dalam buku Naar de Republiek Indonesia kemudian menyebar di Belanda dan di tanah air. Ia lalu menginspirasi para pejuang pergerakan kemerdekaan, termasuk Soekarno, untuk merealisasikan gagasan negara bernama Republik Indonesia ini.
***
Di musim pagebluk ini kita semestinya punya ruang waktu lebih banyak untuk kembali mengakrabi buku. Mungkin ada di antara kita yang selama ini sudah terlalu lama meninggalkan buku. Waktu kita seharian habis tercurahkan sebagai budak korporat atau pemburu cuan. Kalaupun ada jeda sejenak, kita malah tenggelam di dunia maya, pengalihan rutinitas yang sebenarnya kurang sehat bagi batin dan pikiran.
Mari kembali merayakan buku. Usap debu yang mungkin mulai menebal di sampulnya. Buka halaman per halamannya. Baui aroma khas kertasnya. Serap tiap aksara, kata per kata, kalimat per kalimatnya. Biarkan ia bercerita dan kita akan tersadar bahwa ia adalah sebaik-baiknya teman.
Selamat Hari Buku.

Komentar
Posting Komentar