Menanam Sagu di Kepala
Malam baru saja dimulai di Kampung Yepem, Distrik Agats, Asmat, Papua. Waktu menunjukkan sebentar lagi jam makan malam. Di rumah Mama Katarina Akbotcemen (62 tahun) kami sedang menunggu matangnya sagu bola dan ikan duri yang sedang dibakar di tungku api. Mama Fransina Joamde (54) yang sibuk menyiapkannya. Penganan yang dimasak dengan cara sangat sederhana tersebut menjadi pengisi perut kami malam itu.
“Ambas
akat ooo, sagu enak.”
Jawaban
Mama Katarina sesingkat itu saat saya tanya tentang makan malam kami yang baru
saja meluncur ke lambung. Kami semua tertawa. Mama terbiasa berbicara bilingual
(bahasa Asmat dan bahasa Indonesia) kepada saya yang baru mengerti arti
beberapa kata dalam bahasa Asmat. Hal tersebut kadang menjadi lelucon di antara
kami. Mama-mama saya di Asmat ini selalu puas melihat saya yang kebingungan
mengartikan bahasa Asmat yang mereka ucapkan.
Bagi
masyarakat suku Asmat, sagu bukanlah sekadar makanan. Ia sudah menjadi bagian
dari laku kebudayaan yang mengakar sejak masa leluhur. Menjadi bagian sejarah
yang mengiringi eksistensi Asmat sebagai salah satu suku terbesar di tanah
Papua.
Dalam
banyak cerita leluhur atau mitologi orang Asmat, sagu sering disebut sebagai
bagian dari sejarah pertumbuhan suku di pesisir selatan Papua ini. Misalnya
saja kisah hidup Beworpit, salah satu leluhur yang paling sering disebut dalam
cerita adat Asmat. Beworpit dikisahkan adalah penemu ambas atau
tanaman sagu di dalam rimba Asmat. Bersama istrinya Tewerawut, mereka
memanfaatkan ambas untuk membangun kehidupan di tanah Asmat.
Saat terjadi krisis pangan, Beworpit pulalah yang mengorbankan dirinya dengan
berubah wujud menjadi pohon sagu agar tanaman rawa tersebut bisa terus ada bagi
generasi penerusnya.
Heroisme
Beworpit itu terus hidup dalam alam pikir Orang Asmat. ia selalu dikenang
sebagai leluhur penyedia kehidupan bagi orang Asmat. Kisah ini menjadi salah
satu dongeng yang selalu diceritakan lewat budaya tutur.
Dalam
cerita lain, sagu merupakan makanan utama bagi Kepala Perang beserta
prajuritnya pada masa pengayauan (headhunter). Mereka percaya dengan
memakan sagu badan bisa menjadi lebih kuat. Tenaga bertempur bisa tahan lama.
“Kalau makan (makanan) yang lain, misalnya ikan sembilang, pisang doaka (pisang
gepok), itu badan bisa jadi lemas. Tidak kuat ikut perang,” kata Nenek Yohana
Bandep, saksi hidup tradisi mengayau di Kampung Suwruw, Distrik Agats, Asmat,
Papua, yang kini telah berusia lebih dari satu abad.
Dalam
tatanan sosial, sagu sudah dianggap sebagai harta benda utama bagi masyarakat
Asmat. Pada ritual pernikahan Asmat, sagu menjadi seserahan wajib bersama kapak
batu. Kedua benda itu menjadi simbol perbekalan bagi sepasang mempelai yang
baru akan mengarungi rumah tangga. Selain itu, ulat sagu menjadi penganan wajib
dalam banyak ritual adat Asmat. Biasanya bakal kumbang sagu ini akan disantap
bersama pada puncak perhelatan pesta ritual adat Asmat.
Potensi
Sagu Versus ambisi buta ketahanan pangan
Asmat
bersama daerah di dataran rendah pulau Papua memang dikenal sebagai lumbung
sagu sejak dahulu. Data yang dipublikasikan oleh Buletin Faperta IPB tahun
2019, luas hutan sagu di Provinsi Papua dan Papua Barat mencapai 5,2 juta
hektare. Kabupaten Asmat sendiri memliki hutan sagu seluas 949,959 hektare atau
dua puluh persen dari total 4,75 juta hektare hutan sagu yang ada di Provinsi
Papua.
Menurut
penelitian Nadirman Haska, seorang profesor riset di bidang bioteknologi dan
agroteknologi di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sebagian
besar sagu Papua belum dimanfaatkan secara maksimal. “Papua berpotensi
menghasilkan delapan juta ton sagu per tahun dari pohon yang tumbuh alami dan
belum dimanfaatkan tersebut. Tapi karena kita tidak memanfaatkannya, potensi
pangan tersebut hilang begitu saja,” Kata Nadirman.dikutip dari antaranews.com.
Masih
menurut Nadirman, sebagai sumber pangan, sagu memiliki keunggulann tersendiri.
Sagu dalam wujud tepung bisa diolah menjadi berbagai produk makanan.
Karbohidrat yang terkandung di dalam sagu juga cukup tinggi dan mudah dicerna.
Lagi pula ketersediaanya di hutan sangat melimpah dan tidak memerlukan proses
budidaya yang rumit. “Sagu itu tidak memerlukan lahan yang luas dan mampu
tumbuh tanpa perawatan intensif. Kalau mau serius, sagu bisa menjadi pendukung
upaya Indonesia mewujudkan swasembada pangan,” jelasnya.
Sayangnya
potensi sagu yang dimilki oleh Papua dan kawasan lainnya masih kabur dari
penglihatan pemerintah Indonesia. Program swasembada pangan yang dimulai sejak
masa orde baru hanya mengandalkan beras semata. Pangan-pangan lokal yang
tersebar di berbagai daerah dan menjadi bagian dari identitas keberagaman
nusantara kita dilupakan begitu saja.
Awalnya
program swasembada pangan yang bertumpu pada beras terlihat berhasil. Program
ini bahkan mengantarkan Indonesia menyandang predikat sebagai salah satu negara
yang mampu mencukupi pangan dalam negeri. Tapi tanpa upaya diversifikasi jenis
pangan, swasembada pangan (lebih tepatnya swasembada beras) hanyalah program
yang rapuh. Akibat korupsi besar-besaran, ia ikut runtuh bersamaan dengan
berakhirnya orde baru.
Pemerintah
penerus kemudian seolah gugup dan gagap dalam menyikapi masalah pangan ini.
Mereka seperti tidak bisa berpikir banyak saat melihat masyarakat yang telah
mengalami ketergantungan beras. Demi meneruskan program ketahanan pangan,
ribuan lahan diubah menjadi sawah. Di Papua hutan dibuka untuk ditanami padi.
Masyarakat pemburu peramu didorong (atau dipaksa) menjadi petani. Tentu saja
salah sasaran. Mana bisa masyarakat yang terbiasa hidup dengan memanfaatkan
hutan seketika disuruh berbudi daya.
Tetangga
Asmat yaitu Kabupaten Merauke kini sedang merasakan kegagapan pemerintah itu.
lewat proyek nasional bernama MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy
Estate). Ratusan ribu hektare hutan masyarakat adat dibabat. Wilayah kelola
masyarakat adat Marind dan Mandobo yang biasa menjadi tempat mereka
mengumpulkan sagu, buah-buahan, sampai daging disulap menjadi lahan persawahan
raksasa. Tidak sampai di situ, oleh Presiden Jokowi MIFEE diproyeksikan akan
memanfaatkan lahan seluas 4,6 juta hektare. Bisa dibayangkan, betapa gilanya
proyek ini.
Celakanya,
kebijakan buka-membuka sawah ini nyatanya tidak jelas arahnya. Masyarakat Papua
yang butuh pengembangan pangan lokal malah dihancurkan hutannya. Sementara itu
sawah-sawah yang subur di Pegunungan Kendeng, Jawa Tengah malah ingin dirusak
sumber mata airnya. Lahan pertanian yang ada dikonversi menjadi infrastruktur
yang tidak benar-benar dibutuhkan, seperti bandara di Yogyakarta dan Jawa
Barat.
Tidak
hanya itu, petani di banyak tempat juga menghadapi upaya kriminalisasi saat
berusaha mempertahankan lahannya. Mereka ditangkap dengan tuduhan yang tidak
masuk akal, mulai dari penghinaan lambang negara sampai penyebaran paham
komunisme.
Sementara
itu, di berbagai tempat, termasuk juga di Asmat, alam bawah sadar masyarakat
terus dipengaruhi oleh kebijakan beras-isasi. Masyarakat yang masuk dalam
kategori tidak mampu disuplai beras miskin alis raskin oleh negara. Beras
dengan kualitas rendah ini tidak pernah cukup menghidupi masyarakat dalam
sebulan. Mereka harus tetap berusaha mencari tambahan makanan untuk menyambung
hidup.
Menanam
Harapan Pada yang Lokal
Sudah
saatnya pemerintah membuka mata untuk mulai memaksimalkan potensi pangan lokal
kita, terutama sagu. Sudah terlalu lama potensi kita ini disia-siakan. Mimpi
ketahanan pangan sangat riskan bila hanya dibebankan pada beras semata.
Bukankah keragaman kita juga bersumber dari beranekanya pangan lokal kita?
Cobalah
turun ke masyarakat untuk melihat (sekaligus belajar) betapa kearifan lokal
yang selama ini diterapkan berhasil membuat mereka hidup selaras dengan alam.
Saya rasa pemerintah lewat konsultan-konsultannya yang pandai-pandai itu harus
melepaskan sedikit ego mereka. Nilai-nilai dalam kearifan lokal masyarakat adat
perlu dihormati bahkan dirangkul dalam proses modernisasi sistem produksi
pangan kita. Perpaduan antara yang modern dan yang lokal saya kira akan
memberikan hasil yang maksimal dalam upaya kita mendorong ketahanan pangan.
Adopsi
potensi dan pengetahuan lokal dalam program penyediaan pangan nasional juga
akan meningkatkan kepercayaan diri masyarakat adat dan masyarakat tradisional.
Kearifan lokal yang secara turun-temurun mereka yakini dan jalankan bisa diakui
dalam program pembangunan.
Saya
pernah beberapa kali mengikuti masyarakat Asmat memangkur sagu di dalam hutan
keluarga mereka. Pekerjaan yang dijalankan dengan sangat tradisional ini
menampilkan kekayaan tradisi yang erat dengan penghormatan pada alam. Tidak
sembarangan pohon sagu yang boleh ditebang. Pada beberapa lokasi hutan, suku
Asmat menerapkan metode konservasi tradisional bernama tempat keramat.
Penetapan tempat keramat dilakukan untuk melindungi hutan yang menjadi bagian
dari sejarah leluhur mereka. Tidak boleh ada yang merusak ekosistem di tempat
tersebut. Bagi yang berani melanggar, sanksinya tidak main-main: kematian.
“Pelanggaran itu termasuk teser (jenis pamali paling berat
dalam sistem hukum adat Asmat),” kata Walter Ewenmanam, salah satu Tetua Adat
Asmat di Kampung Yepem.
Wilayah
hutan yang bukan termasuk tempat keramat adalah tempat masyarakat Asmat mencari
makan, mulai dari memangkur sagu sampai berburu binatang. Namun hanya hutan
keluarga, atau yang biasa disebut dusun, yang boleh mereka garap. Selain itu
mereka sangat memperhatikan keadaan dusun. Saat kondisnya dianggap mulai
kritis, mereka akan menerapkan pemabatasan akses melalui ritual cayin.
Menurut Walter Ewenmanam, cayin adalah ritual adat yang
bertujuan untuk membatasi diri atau orang lain atas pekerjaa (aktivitas) karena
suatu sebab. Saat cayin diterapkan, Tetua Adat dari pemilik
dusun tersebut akan memberi penanda berupa awer (daun sagu)
atau pisis/tetre (pucuk daun sagu).
Lokasi
yang telah dilaksanakan ritual cayin tidak boleh dimasuki atau
digarap dalam jangka waktu tertentu. Tujuannya untuk memberikan kesempatan
kepada dusun yang gundul tadi untuk tumbuh kembali secara alami. Hal ini mirip
dengan tradisi sasi di daerah Maluku dan Maluku Utara.
Lewat
kearifan lokalnya masyarakat adat Asmat meyakini jika kita memperlakukan alam
dengan baik, maka alam akan berlaku sebaliknya kepada kita. Bumi bukan benda
mati yang hanya diam ketika dirusak.
Namun
di balik kekayaan pengetahuan lokal masyarakat Asmat dalam memanfaatkan hutan,
teknik tradisional dalam memangkur sagu yang mereka terapkan sangatlah terasa
berat. Mereka bisa menghabiskan tenaga sepanjang hari untuk menebang pohon
sagu, menguliti, memangkur, sampai menyaring pati menjadi tepung sagu. Lagi
pula dengan cara tersebut hasil yang didapatkan tidak terlalu maksimal. Dalam
sehari dua orang hanya mampu menggarap satu buah pohon sagu. Hasil tepung sagu
yang bisa dihasilkan dari satu pohon itu sekitar dua sampai tiga noken
(seukuran karung beras 25 kilogram).
Di
sinilah intervensi pemerintah lewat penerapan teknologi dibutuhkan. Sudah
seharusnya sentra-sentra pengolahan dibangun di lokasi yang memiliki potensi
sagu yang besar. Bersamaan dengan itu pemberdayaan masyarakat dengan
melibatkan mereka dalam proses produksi juga harus berjalan.
Pemerintah kita sudah harus mulai berpikir ulang tentang konsep “menanam” yang selama ini terus mereka paksakan dalam program ketahanan pangan. Jangan hanya membuka lahan raksasa tapi mengabaikan tata hidup yang selama ini masyarakat bangun. Kepala masyarakat perlu ditanamkan imajinasi tentang kesejahteraan lewat potensi mereka sendiri. Sumber daya alam kita sudah sangat melimpah. Hari ini waktunya kita menanam harapan, demi menuai kebaikan di masa depan.
Post Scriptum: tulisan ini terinspirasi dari lagu “Menanam” milik band folk Makassar, Kapal Udara.

Komentar
Posting Komentar