Sehari di Dusun Sagu


Melihat aktivitas memangkur sagu di hutan adalah menyaksikan tradisi yang semakin tersisih. Monopoli beras sebagai komoditi utama program ketahanan pangan membuat makanan pokok orang timur ini kian dilupakan.  Di Asmat, Papua, potensi besar ini nyaris tidak dilirik sama sekali. Ia hanya dimanfaatkan secara tradisional oleh masyarakat yang masih menjalankan ajaran leluhur.

Rabu, 22 Februari 2017. Pagi masih menyisakan dingin saat saya dan dua orang rekan tiba di dermaga Kampung Kaye, Distrik Agats, Asmat, Papua. Hari itu kami punya janji dengan Bapak Yanuarius Ombercem untuk berkunjung ke dusun sagu milik keluarganya.

Dusun adalah sebutan Orang Asmat untuk wilayah hutan yang menjadi tempat mereka mengumpulkan bahan makanan. Selain tempat memangkur sagu, di sana mereka juga bisa mendapatkan hewan buruan, bahan bangunan, hingga obat-obatan alami.

 Su siap ka?” Sapa pria yang akrab dipanggil Yance tersebut.

 “Iya to!” jawab kami serempak.

Pak Yance kemudian bergegas memanggil semua anggota keluarganya yang akan ikut serta ke dusun sagu. Sekitar pukul delapan pagi kami semua sudah siap berangkat. Rombongan yang berjumlah total enam belas orang masuk satu per satu ke dalam perahu viber bermesin. Perahu kami sarat penumpang betul waktu itu. Perjalanan ke dusun sagu Pak Yance akan melewati dua kali utama milik masyarakat Kampung Suwruw-Aswet-Kaye, yaitu, Kali Fambret dan Kali Ba.

Tujuan kami ke dusun sagu hari itu adalah untuk memangkur sagu yang akan dijadikan seserahan perkawinan. Seorang keponakan Pak Yance, yaitu Daniel Eraman, baru saja mempersunting seorang perempuan yang juga bersuku Asmat. Dalam adat Suku Asmat, seorang laki-laki yang baru menikah harus memberikan persembahan kepada keluarga istrinya. Persembahan tersebut haruslah sesuatu yang berharga, yaitu kapak batu dan sagu. kedua benda tersebut tidak hanya berharga namun juga mempunyai arti simbolik dalam adat Asmat. Kapak batu adalah perkakas utama Orang Asmat dalam bekerja. Sedangkan sagu merupakan makanan utama yang dipercaya memberi kehidupan. Keduanya penting sebagai bekal dalam mengarungi rumah tangga.

“Sagu itu harta bagi kami Orang Asmat,” kata Mama Natalia Desnam menjelaskan mengapa sagu yang menjadi seserahan wajib dalam proses pernikahan adat di Asmat.

Dalam perjalanan kali ini pula, saya kembali menyaksikan ketangguhan perempuan atau mama-mama Asmat dalam bekerja. Dari enam belas orang yang turut serta hari itu, ada sembilan orang mama-mama yang membawa sendiri semua peralatan mereka, mulai dari alat pangkur, gagar, parang, serta beberapa peranti kecil untuk menyaring sari-sari sagu. Kesemua peralatan tersebut dijinjing di dalam sebuah tas noken berbahan karung plastik.

Dalam perjalanan mengarungi Kali Fambret dan Kali Ba, kami bercerita dengan mama-mama tentang peralatan pangkur sagu mereka. Mama Natalia bersama Mama Agustina Baspit yang duduk di dekat kami di dalam perahu menjelaskan fungsi masing-masing peralatan yang mereka bawa.

“Alat pangkur ini disebut kam (dalam bahasa Asmat). Ini dipakai untuk menghancurkan sagu. Kalau ini om (gagar, semacam tombak yang terbuat dari kayu pohon pinang) dipakai untuk memeriksa pohon sagu itu ada isi atau tidak. Ujungnya ini tidak boleh basah sampai dipakai nanti di dusun sagu. itu pamali,” jelas Mama Natalia sambil menunjukkan satu per satu peralatannya yang tersimpan di dalam noken karung.

Sekitar dua puluh menit menyusuri kali, kami tiba di tujuan. Perahu kami ditambatkan di tepi kali dengan diikat di sebuah pohon bakau. Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju dusun sagu. Trek menuju dusun sagu keluarga Pak Yance cukup sulit, harus melalui belukar dan lahan rawa yang basah. Jalan setapak yang telah lebih dulu dibuat sama sekali tidak mulus. Masih banyak duri dari pohon sagu yang sudah tumbang. Kami yang memakai sepatu karet cukup kesulitan melalui medan ini. Kaki saya bahkan beberapa kali terbenam di lumpur karena salah berpijak.

Tapi saat melihat mama-mama Asmat, hampir tidak terlihat sama sekali kesulitan bagi mereka melalui jalanan tersebut. Padahal mereka berjalan tanpa menggunakan alas kaki sambil membawa noken berisi peralatan pangkur yang berat. Kentara betul mereka sudah terbiasa dengan medan semacam itu, karena sudah menjadi aktivitas yang rutin mereka lakukan. Kaki telanjang mereka seperti mengolok-ngolok kaki bersepatu karet kami yang melangkah tertatih berat sekali.

Memasuki dusun sagu, kami diajak singgah terlebih dahulu di lokasi tempat sakral. Daniel memberi kami bibit buah manis yang baru saja ia cabut. Semua orang yang memasuki dusun sagu harus meminta izin dengan cara meletakkan bibit buah manis di titik tempat sakral tersebut. Hal ini dilakukan sebagai bentuk permintaan izin kepada leluhur untuk memasuki daerah tersebut.

“Dusun ini dusun keramat. Jadi kalau mau masuk kita harus permisi,” Kata Pak Yance dengan suara pelan.

“Ini tempat moyang. Jadi harus taruh anakan (bibit) buah manis di sini. Itu tandanya kita permisi sama dorang (mereka – roh leluhur),” Mama Natalia menimpali.

Ada banyak tempat, terutama di dalam hutan yang dijadikan tempat keramat oleh masyarakat adat Asmat. tempat-tempat tersebut dipercaya sebagai lokasi yang dulunya ditempati oleh para leluhur mereka. Dalam kepercayaan Orang Asmat, lokasi keramat tidak boleh dimasuki tanpa izin pemiliknya. apalagi sampai dirusak. Melanggar aturan tersebut adalah sebuah teser, pelanggaran adat kategori berat. Hukumannya adalah kematian yang dipercaya diturunkan langsung oleh arwah leluhur yang mendiami tempat keramat tersebut.

Setelah semua orang menaruh bibit buah manis, Pak Yance merapalkan doa adat dalam bahasa Asmat. Setelahnya baru kami melanjutkan perjalanan. Tidak terlalu jauh dari tempat keramat tadi, kami sudah sampai di dusun sagu yang menjadi tujuan hari itu. Sejauh mata memandang, pohon sagu mendominasi hutan tersebut. Mama Natalia, Mama Agustina, dan mama-mama yang lain mulai membagi diri menjadi tiga kelompok. Sedangkan Pak Yance bersama tiga mama-mama lainnya melanjutkan perjalanan menuju dusun yang letaknya lebih jauh ke dalam hutan. Kami tidak diizinkan ikut. Entah karena medan dianggap terlalu berat buat kami atau hutan tersebut memang terlarang untuk orang luar.

“Kalian di sini saja bersama mama-mama dorang,” Kata Pak Yance sambil tersenyum kepada kami. Kami pun menurut.

Mama-mama yang telah terbagi dalam tiga kelompok tadi kemudian mulai memilih pohon sagu yang dianggap sudah dapat menghasilkan sari pati sagu. Sebelum benar-benar ditebang, pohon pilihan mereka diperiksa terlebih dahulu untuk memastikan isinya sudah siap dipanen. Caranya dengan menancapkan kapak dalam-dalam ke batang pohon sagu. setelah dicabut, mereka mengoles jari ke mata kapak. “Nah, pohon yang ini sudah ada isi. Ini sudah ada bekas (sari pati) sagu di kapak ni,” terang Mama Natalia sembari menunjukkan kapaknya kepada kami.

Setelah dipastikan berisi barulah pohon sagu benar-benar mulai ditebang. Sekuat tenaga mama-mama Asmat mulai menancapkan kapak mereka di pohon yang bagian luarnya sangat keras tersebut. Sekali lagi saya menyaksikan sendiri kekuatan mama-mama Asmat ini. Mama Natalia yang tertua dalam rombongan tersebut sudah berusia 49 tahun saat itu. Namun ia masih mampu menumbangkan pohon sagu setinggi sekitar lima belas meter dan diameter enam puluh sampai tujuh puluh sentimeter.

Belasan menit menghujamkan kapak, pohon yang ditebang Mama Agustina tumbang duluan. Beberapa menit kemudian pohon sagu Mama Natalia dan mama di sebelahnya menyusul. Oleh Daniel, kami disuruh menjauh dari lokasi rebahnya pohon-pohon tersebut. Dari pola tebasan kapak, arah jatuhnya pohon sagu yang ditebang sudah bisa diperkiran.

Pohon sagu yang telah tumbang tidak lantas mempermudah pekerjaan. Proses produksinya, menurut Mama Natalia, masih sangat panjang sampai dihasilkan sari pati sagu. “Kalau cari sagu ini kerja banyak sekali. Kalau potong kayu bakar, kita potong, kita belah, itu gampang. Kalau namanya sagu ini, setengah mati. Untuk satu batang ini biasa kita kerja dari pagi sampai sore,” kata mama yang juga bekerja sebagai petani sayuran ini.

Gelondongan pohon sagu kemudian diidentifikasi isinya dengan menggunakan gagar. Hal ini dilakukan untuk mengetahui keberadaan tepung sagu terdapat di areal mana saja. Caranya mirip seperti saat pohon sagu akan ditebang: gagar ditancapkan dalam-dalam di batang pohon. Jika sari pati sagu nampak di mata gagar, daerah itulah yang nantinya akan dipangkur. Sebaliknya, jika sari pati sagu tidak terlihat, maka areal tersebut tidak akan digarap. Tentu hanya akan menghabiskan tenaga saja.

Areal di pohon sagu yang sudah diketahui mengandung sari pati sagu kemudian dikuliti. Kulit pohon sagu memiliki tebal sekitar lima sampai sepuluh sentimeter dengan permukaan yang sangat keras. Sisi bagian atas dibuka terlebih dahulu sebelum dipangkur. Sementara sisi bagian samping dan bawahnya dibiarkan sebagai penampung sari pati saat sagu mulai dihancurkan.

Mama Agustina langsung mengerjakan tahapan ini setelah berhasil menumbangkan pohonnya. Sementara Mama Natalia yang lebih berumur terlihat duduk sejenak menarik napas. Bukan tanpa alasan, dua tahapan dalam memproduksi sagu berikutnya, yaitu menguliti dan memangkur, adalah bagian paling berat dan memakan banyak waktu.

Mama Natalia terlihat mulai mengasah mata alat pangkurnya. Untuk mempermudah penggunaannya, piranti yang terbuat dari kayu tersebut disematkan besi pada bagian ujungnya. Besi yang melingkar dan tajam akan lebih mudah dan cepat menghancurkan gelondongan sagu. Sari pati yang dihasilkan pun akan lebih halus. Setelah mata pangkur dirasa sudah cukup tajam, mama-mama mulai beraksi. Isi pohon sagu mulai dilepaskan dari batangnya dengan cara dihancurkan. Untuk memangkur satu pohon sagu dibutuhkan waktu kurang lebih tiga sampai empat jam. Sungguh tahapan yang lama dan melelahkan.

Kami yang ingin mencoba ikut memangkur sagu merasakan langsung sensasi beratnya pekerjaan ini. Bagian isi batang sagu ternyata cukup keras untuk dihancurkan. Mama Natalia hanya tertawa melihat kami yang kepayahan. Ia lantas menjelaskan, “kalau keras itu bagus. Itu berarti tepungnya banyak.” Pantas saja mama-mama yang memangkur sagu tetap bersemangat bekerja walau terlihat sangat berat dan melelahkan. Ternyata semakin keras batang sagu, semakin banyak pula tepung yang akan dihasilkan.

Sementara proses memangkur sagu berlangsung, mama-mama yang lain membuat sumur kecil dan mempersiapkan peranti penyaring. air di dalam sumur tersebut kemudian didiamkan sesaat sampai menjernih. Batang sagu yang sudah hancur diletakkan di atas penyaring yang sudah dirancang secara sederhana dari pelepah pohon sagu. Sagu kemudian disiram lalu diremas sampai menghasilkan cairan berwarna putih. Air perasan tadi mengalir menuju tempat penampungan dan dibiarkan mengendap. Tidak lama kemudian, voila, gumpalan sari pati sagu mulai nampak.

Sari pati sagu yang telah mengendap kemudian dipindahkan ke dalam tas noken yang terbuat dari karung plastik. Proses yang memakan waktu seharian ini tentu setimpal dengan yang dihasilkan. Satu pohon sagu dapat menghasilkan dua sampai tiga noken sagu basah. Menurut Mama Natalia, jika dikonsumsi sendiri di dalam keluarga, hasil tersebut dapat bertahan sampai satu bulan lebih.

Sekitar pukul lima sore, terdengar suara dari arah rombongan Pak Yance. Itu tandanya aktivitas memangkur sagu hari itu harus disudahi, walaupun masih ada ampas sagu yang belum disaring. Pekerjaan baru boleh dilanjutkan esok hari. “Pamali kita bekerja malam hari. Malam itu waktunya kita istirahat. Tidak boleh bekerja,” terang Pak Yance.

Mama-mama mulai mengendong hasil pangkuran sagu dengan cara meletakkannya di punggung. Tali noken ditautkan di kedua lengan dan kepala. Berat masing-masing noken yang berisi penuh sagu basah bisa mencapai tiga puluh kilogram. Dari empat pohon sagu yang ditebang hari itu, dihasilkan belasan noken sagu basah. Nantinya sagu-sagu tersebut dikumpulkan di rumah Pak Yance sebelum kemudian diserahkan kepada keluarga istri Daniel sebagai seserahan pernikahan.

Melihat langsung proses memangkur sagu di hutan Orang Asmat adalah pengalaman yang sungguh luar biasa. Saya merasa beruntung sekali diajak untuk menyaksikan pekerjaan yang perlahan semakin sedikit peminatnya ini. Bisa saja tradisi turun-temurun ini akan semakin sulit ditemui pada tahun-tahun yang akan datang.

Semoga saja tidak demikian.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengawasan dan Monitoring Mangrove Berbasis Masyarakat: Pembelajaran dari Lanskap Mimika-Asmat dan Indragiri Hilir

Resiliensi

The Way of Mangrove