Mangrove dan Masyarakat Adat Asmat
Secara
turun-temurun masyarakat adat di nusantara hidup bersama dengan alam. Di banyak
tempat di wilayah pesisir, masyarakat adat dan ekosistem mangrove hidup
berdampingan dan saling menghidupi. Hal tersebut tergambar betul dalam
pengalaman saya selama bekerja bersama masyarakat adat di Kabupaten Asmat,
Papua.
Manfaat
yang diberikan oleh ekosistem mangrove dirasakan oleh masyarakat adat dalam
aspek sosial, ekonomi, dan ekologis. Keadaan ini terwakili dengan baik lewat
frasa “hutan mangrove adalah ibu bagi Orang Asmat.” Maksudnya adalah mangrove
telah melakukan semua tindakan seperti yang dilakukan oleh seorang ibu kepada
anaknya. Merawat, memberi makan, menjaga, melindungi, hingga menyokong
kehidupan mereka. Semua hal tersebut dirasakan oleh masyarakat adat Asmat dalam
interaksinya dengan ekosistem mangrove di pesisir selatan Papua.
Menurut
data Sebaran Mangrove Nasional yang dikeluarkan oleh One Map Policy, pada tahun
2019 luas hutan mangrove Kabupaten Asmat seluas 254.881 hektare. Ini menyumbang
7,7 persen dari total luas hutan mangrove Indonesia yang mencapai 3.311.246
hektare. Bersama Kabupaten Mimika, lanskap mangrove di Papua ini merupakan yang
terbesar kedua di dunia setelah Taman Nasional Sundarbans yang terletak di
Bangladesh dan India. Tentu bisa dibayangkan betapa besar potensi ekosistem
mangrove dalam mendukung penghidupan masyarakat adat di Asmat.
Secara
ekologis, ekosistem mangrove menjadi tempat hidup berbagai biota perairan.
Mangrove berfungsi sebagai tempat mencari makan (feeding ground), tempat
berpijah (spawning ground), hingga tempat berkembang biak (nursery
ground) bagi beberapa jenis ikan, udang, kerang dan kepiting. Sementara itu
dahan dan pucuk pohon-pohon mangrove dijadikan tempat singgah dan bersarang
berbagai jenis satwa, terutama burung dan reptil.
Selain
itu hutan mangrove juga berfungsi sebagai pertahanan wilayah pesisir.
Eksosistem mangrove yang sehat berperan sebagai pengikat tanah hingga mencegah
terjadinya abrasi pantai dan intrusi air laut ke dalam tanah daratan. Pada saat
terjadi ombak dan badai, hutan mangrove menjadi benteng yang melindungi
pemukiman warga. Fungsi sabuk hijau (green belt) mangrove mengurangi
dampak buruk dari terjadinya bencana alam. Mangrove atau mangi-mangi dalam
bahasa masyarakat timur Indonesia, menjadi salah satu bentuk mitigasi
dalam proses pembangunan kampung masyarakat adat di Asmat.
“Setiap
akhir sampai awal tahun, daerah di pesisir selatan Papua ini menghadapi yang
namanya angin barat. Saat itu angin dan ombak besar biasa mengancam kita di
laut. Tapi karena ada hutan mangrove kami bisa hidup dengan tenang di kampung,”
kata Ruben Arrd, tokoh masyarakat adat Kampung Suwruw yang bekerja di Balai
Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Agats.
Dari
aspek sosial, hutan mangrove merupakan identitas yang sangat penting bagi
masyarakat adat Asmat. Beberapa lokasi di dalam areal mangrove merupakan daerah
sakral atau keramat bagi mereka. Guna melindungi daerah tersebut masyarakat
Asmat menetapkan larangan atau pembatasan aktivitas pemanfaatan. “Kami
menetapkan yang namanya karu-teser. Itu adalah hukum adat kami
Orang Asmat” kata Walter Ewenmanam, salah satu Tetua Adat di Kampung Yepem,
Distrik Agats, Asmat, Papua.
Karu dan teser adalah
bentuk hukum tidak tertulis yang masih hidup dalam sistem kepercayaan
masyarakat adat Asmat. Sanksi dari kedua pelanggaran hukum ini dipercaya
diturunkan langsung oleh leluhur kepada para pelanggarnya. Sifat dari hukum
adat karu dan teser adalah religio magis,
suprarasional namun eksistensinya diyakini dan dijalankan oleh masyarakat adat
Asmat.
Karu adalah
pelanggaran hukum yang masih dianggap ringan. Sanksinya dapat berupa teguran
atau kesialan. Sedangkan bentuk pelanggaran adat yang paling berat adalah teser. Pelanggaran
atas hukum ini bisa berakibat celaka bahkan meninggal dunia. Hukum adat ini
sangat dipegang oleh masyarakat adat Asmat, termasuk dalam mengelola sumber
daya alam mereka.
Walaupun
ada yang menganggap kearifan lokal masyarakat adat tidak rasional, nyatanya
hukum adat ini efektif dalam menjaga kelestarian lingkungan Asmat selama
ratusan tahun. Larangan untuk mengakses hutan yang ditetapkan sebagai tempat
keramat berhasil memproteksi lahan dari ancaman deforestasi atau degradasi.
Sedangkan pembatasan aktivitas dalam kawasan hutan mencegah terjadinya
pemanfaatan yang berlebihan (over exploitation) atau yang bersifat
ekstraktif.
Pelaksanaan ritual adat Asmat di jew Kampung Suwruw.
Seluruh bahan baku pembangunan rumah adat jew diambil dari hutan mangrove.
(Dokumentasi pribadi) |
Selain
itu, hutan mangrove juga menjadi penyedia bahan baku untuk pembagunan rumah
adat jew. Jew merupakan pusat kegiatan sosial bagi masyarakat
adat Asmat. di rumah tradisional berbentuk bangunan panggung yang memanjang
tersebut, banyak aktivitas masyarakat dilaksanakan, mulai dari interaksi
harian, tempat perhelatan ritual adat, hingga musyawarah pengambilan keputusan. Itulah
sebabnya mengapa masyarakat adat Asmat sangat melindungi hutan mangrove. ”Kalau
(hutan) mangrove ini rusak, kita mau dapat bahan untuk bangun jew dari
mana? Kalau sudah begitu bisa-bisa adat akan hilang. Orang Asmat pasti akan
hilang juga,” Kata Paskalis yang merupakan seorang seniman ukir Asmat yang juga
berasal dari Kampung Yepem.
Pembangunan jew di
beberapa kampung di Asmat mensyaratkan harus menggunakan kayu mangrove. Hal ini
sudah menjadi aturan adat yang telah berlangsung secara turun-temurun. Misalnya
di kampung-kampung yang termasuk dalam Rumpun Bismam, mulai dari Agats yang
menjadi pusat Kabupaten Asmat hingga Kampung Beriten di bagian barat,
konstruksi jew menggunakan kayu pow (mangrove
jenis Bruguiera gymnorrhiza), kayu jow (Bruguiera
parviflora), kayu sipat (Bruguiera sexangula),
kayu juam atau kayu putih (Camptostemon sp.) dan
kayu pit (Dolicandron spathaceae). Kerusakan ekosistem
mangrove adalah ancaman serius bagi eksistensi jew. Jew yang
hilang atau dilupakan akan berimbas pada matinya adat Orang Asmat.
Jaring
Pengaman Sosial di Masa Pandemi
Ekosistem
mangrove yang lestari juga memberi manfaat bagi masyarakat adat dari aspek
ekonomi. Seperti yang telah dijelaskan, mangrove yang sehat merupakan tempat
berpijah dan mencari makan bagi berbagai biota perairan. Hasil perikanan di
ekosistem mangrove yang melimpah dimanfaatkan oleh masyarakat untuk memenuhi
perekonomian rumah tangganya. Di wilayah pesisir Asmat, sebagian besar warga
berprofesi sebagai nelayan tradisional yang memanfaatkan melimpahnya hasil alam
di sekitar ekosistem mangrove. Diantaranya adalah berbagai jenis ikan, udang,
kerang, hingga karaka atau kepiting bakau yang terkenal
sebagai hidangan mewah di restoran-restoran berbagai kota dan negara.
Hasil
tangkapan para nelayan tradisional Asmat sebagian besar didistribusikan ke
pasar di pusat kabupaten untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat lainnya.
Uang hasil penjualannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari
hingga biaya sekolah dan kuliah anak. “Di kampung kami sudah cukup banyak anak
yang lanjut kuliah keluar kota karena hasil dari hutan mangi-mangi (mangrove)
ini sudah,” kata Mama Lena Desnam, salah satu tokoh perempuan di Kampung
Suwruw.
Perekonomian
masyarakat adat yang berbasis pada pengelolaan sumber daya alam ini terbukti
lebih tangguh (resilience), bahkan di masa pandemi Covid-19 seperti
sekarang ini. Saat perekonomian sedang kepayahan karena Covid-19, resesi hampir
tidak dirasakan oleh masyarakat adat di Asmat. Mereka yang masih menggantungkan
hidup pada alam tetap bekerja seperti biasa. Selain aktivitas di pesisir
seperti yang disebutkan di atas, masyarakat adat Asmat juga masih bisa
memanfaatkan hutan untuk memangkur sagu dan mengumpulkan hasil hutan lainnya.
Ada pula yang berkebun dengan menanam sayuran, buah-buahan, dan umbi-umbian.
Masyarakat adat di Asmat membentuk jaring pengaman sosial mereka sendiri lewat
pengelolaan sumber daya alam yang lestari. Dengan pemanfaatan yang lestari,
alam memberikan jaminan ketersediaan mata pencaharian yang terus ada. Cukup dan
berkelanjutan.
Nelayan tradisional sedang menjaring udang di pesisir
Asmat yang ditumbuhi ekosistem mangrove yang sehat. (Dokuemntasi Pribadi) |
Beberapa
Ancaman dan Peluang
Ekosistem
mangrove dengan aktivitas pemanfaatan tradisional yang dilakukan oleh
masyarakat adat saat ini mendapat ancaman yang berpotensi mengganggu
kelestarian. Selain karena tekanan dari masuknya sistem yang lebih modern,
ancaman terbesar datang dari proses alih fungsi lahan di kawasan mangrove. Alih
fungsi lahan diperuntukan guna membuka pemukiman baru, kawasan perkantoran, dan
fasilitas infrastruktur lainnya dalam skema pembangunan oleh pemerintah. Selain
itu pembukaan lahan secara besar-besaran juga terjadi dengan masuknya industri
perkebunan monokultur berskala besar seperti kelapa sawit juga aktivitas
pertambangan, baik yang legal maupun ilegal.
Hal
ini mulai dirasakan dampaknya oleh tetangga Kabupaten Asmat, seperti Mimika,
Mappi, Boven Digul, dan Merauke. Alih fungsi kawasan masyarakat adat secara
besar-besaran juga berarti alih rupa sistem sosial bagi mereka. Hutan yang
hilang menyebabkan terkikisnya nilai identitas kebudayaan masyarakat adat, yang
dulunya berburu-meramu dan pemanfaatan tradisional kini dipaksa beralih pada
sistem perekonomian yang lebih modern. Mereka yang tidak punya cukup bekal
menghadapi perubahan tersebut akan hidup dalam kondisi yang sangat rentan.
Guna mengantisipasi dampak tersebut sampai di kampung-kampung di Asmat, masyarakat adat melakukan upaya pengamanan hutan di tingkat tapak. Memperkuat kelembagaan adat dan pelaksanaan hukum adat terus dilakukan. Selain itu, lewat dukungan berbagai pihak, mereka melakukan program aksi untuk meningkatkan pengelolaan berkelanjutan yang berbasis masyarakat. Kegiatan yang dilaksanakan diantaranya pemetaan wilayah kelola masyarakat adat, pembentukan kelompok jaga hutan yang melibatkan pemuda dan tokoh adat, penyusunan peraturan kampung yang mengadopsi hukum adat atau kearifan lokal yang masih dijalankan oleh masyarakat adat, serta pengembangan mata pencaharian yang berkelanjutan.
Kegiatan monitoring dan pengamanan kawasan hutan mangrove
yang dilakukan oleh Kelompok Jaga Hutan di Kabupaten Asmat. (Dokumentasi
pribadi) |
Penguatan
sistem pengelolaan hutan yang berbasis masyarakat diharapkan akan menjadi
proteksi ketika ancaman tersebut sampai di kampung. Mengadopsi apa-apa yang
selama ini dijalankan oleh masyarakat adat untuk diadaptasi ke dalam sistem
pengelolaan tersebut akan menumbuhkan kepercayaan diri masyarakat dalam
mengelola wilayahnya. Saat godaan alih fungsi kawasan datang, mereka sudah
punya modal dalam bentuk kesadaran bahwa hutan adalah aset penting bagi
penghidupan. Saat hutan rusak, kehidupan akan terancam.
Kata
kunci yang paling kuat dalam upaya peningkatan sistem pengelolaan kawasan hutan
adalah kolaborasi. Kolaborasi pengelolaan (co-management) dalam suatu
kawasan hutan akan menghimpun semua kekuatan dan kepentingan para pihak.
Kolaborasi pengelolaan akan mengurangi ego sektoral dan tumpang tindih program
serta kebijakan. Para stakeholder akan saling mengisi dalam
upaya mendorong peningkatan pengelolaan kawasan hutan. Hal inilah yang sedang
didorong untuk dilakukan di Asmat dan beberapa kabupaten lainnya di Papua.
Selain itu masyarakat adat dengan dukungan para pihak perlu menyambut kebijakan yang telah dikeluarkan oleh pemerintah terkait pengelolaan hutan adat. Pada tahun 2015 Mahkamah Konstitusi telah menetapkan bahwa Hutan Adat telah dinyatakan sebagai bukan Hutan Negara. Selain itu pemerintah juga telah menetapkan pelaksanaan skema Perhutanan Sosial yang termasuk di dalamnya adalah Hutan Adat. Hal ini perlu ditindaklanjuti dengan melakukan proses inventarisasi dan penetapan wilayah Hutan Adat di seluruh Indonesia termasuk di tanah Papua. Penetapan Hutan Adat adalah upaya legal formal untuk mengamankan kawasan hutan yang dikelola secara mandiri oleh masyarakat adat.


Komentar
Posting Komentar