Ci Sang Pengarung Zaman


Herman Arep (55 tahun) sedang memperhatikan ci buatannya saat kami bertemu di depan jew Kampung Warse, Distrik Jetsy, Asmat, Papua. Pagi itu ia berencana melanjutkan pengerjaan perahu tradisional yang sudah dibuatnya selama hampir sebulan. “Kalau sa kerja setiap hari, satu minggu lagi ci ini sudah bisa dipakai. Bagian depan ini masih akan saya kikis biar jalannya nanti bisa seimbang,” katanya, sambil menunjuk bagian perahu yang masih perlu diperhalus.

Dari sedikit orang yang memiliki kemampuan membuat ci di Kampung Warse, Herman adalah salah satu yang tersisa. Nyaris setiap tahun ia membuat ci untuk berbagai peruntukan, baik untuk digunakan sehari-hari ataupun untuk keperluan ritual adat.

“Sekarang sudah tinggal sedikit yang bisa bikin perahu ini,” kata pria yang menjabat sebagai salah satu Tetua Adat di jew Kampung Warse ini. “Orang-orang lebih senang pakai fiber (perahu motor dengan bodi berbahan fiber). Fiber lebih cepat. Untuk mendapatkannya juga gampang. Tinggal minta sama orang dinas (pemerintah).”

Ci, bersama rumah adat jew, adalah segelintir jejak karya leluhur masyarakat adat Asmat yang masih dapat kita temui hingga sekarang. Bukan hanya memiliki daya guna dalam kehidupan sehari-hari, kedua benda tradisi ini menyimpan nilai hidup luhur Orang Asmat yang dijalankan secara turun-temurun. Proses pembuatannya mengandung filosofi tentang kemandirian dan keswadayaan, etos hidup Orang Asmat yang semakin terkikis hari-hari ini.

Proses pembuatan perahu ci Kampung Yeni, Distrik Joerat, Asmat.

Dalam banyak riwayat disebutkan, ci adalah benda yang sangat penting dalam mengantar peradaban masyarakat adat Asmat. Pada masa hidup berpindah (nomaden) perahu berbentuk panjang ini menjadi alat transportasi utama. Ia mengantar penjelajahan suku terbesar di pesisir selatan Papua ini yang konon terbentang antara pesisir di Papua Nugini hingga daerah yang kini bernama Kaimana dan Fak-Fak.

Pada masa perang dan perburuan kepala atau pengayauan, ci merupakan kendaraan tempur yang sangat diandalkan. Bentuknya yang ramping membuat ci dengan mudah mengarungi wilayah Asmat yang didominasi oleh perairan pesisir dan daerah aliran sungai. Ia mampu bermanuver sampai di kali-kali kecil untuk menjangkau kampung lawan yang paling terisolir sekalipun.

Dalam perkembangannya di masa modern, ci tetap dipakai dalam aktivitas sehari-hari. Di tengah maraknya penggunaan perahu bermesin, perahu tradisional ini masih tetap menjadi andalan masyarakat adat Asmat. Ia digunakan untuk berbagai keperluan. Oleh nelayan, ia dipakai untuk menangkap komoditas perikanan di perairan dangkal. Bagi masyarakat yang masih bertahan dengan hidup berburu meramu, ci digunakan untuk menuju dusun, hutan tempat mengumpulkan bahan makanan.

Ci dapat bertahan di tengah modernisasi alat transportasi perairan karena lebih mudah diakses oleh masyarakat adat. Bahannya bisa didapatkan dari hutan secara cuma-cuma. Selama ilmu pembuatan perahu tradisional Asmat ini masih dikuasai, selama itu pula ci akan tetap mengarung di laut dan sungai Asmat.

Eksistensi penggunaan ci juga turut terjaga lewat masih dipegang-teguhnya adat istiadat Asmat. Ci senantiasa hadir pada berbagai pelaksanaan ritual adat. Seperti yang pernah saya dapati di Kampung Yepem. Saat itu sekitar April 2018, di muka jew yang berdiri sementara, berjajar puluhan kayu gelondongan. Ada yang masih bulat sempurna, ada pula yang mulai berbentuk perahu.

Jejeran perahu ci yang sedang dalam proses pembuatan di Kampung Suwruw, Distrik Agats, Asmat

Parade pembuatan ci tersebut dilaksanakan dalam rangka menyambut pembangunan rumah adat jew baru di Kampung Yepem. Nantinya puluhan perahu tradisional tersebut akan digunakan untuk mengambil bahan kosntruksi jew di dalam hutan. Aturan adat Asmat mensyaratkan pengambilan bahan untuk bagunan jew tidak boleh menggunakan perahu bermesin atau kendaraan modern lainnya. Semua bahan harus diangkut dengan menggunakan ci.

Ci terbuat dari satu gelondongan kayu utuh yang sudah siap diolah, ditandai dengan ukuran diameternya di atas lima puluh sentimeter. Materialnya menggunakan pohon ketapang hutan atau pohon bintangur yang oleh masyarakat Asmat disebut sebagai pohon perahu. Kedua bahan tersebut tumbuh subur di hutan yang menjadi wilayah kelola masyarakat adat Asmat.

Proses pembuatan ci memakan waktu dan tenaga ekstra. Dimulai dari pengambilan bahan di dalam hutan, kemudian dihanyutkan melalui sungai ke dalam kampung. Gelondongan kayu kemudian dibiarkan mengering terlebih dahulu selama kurang lebih seminggu. Setelah itu barulah kayu mulai dikerjakan. Proses membentuk sebatang kayu utuh menjadi perahu yang siap dipakai adalah pekerjaan yang tidak kalah melelahkan. Waktu pengerjaannya bisa berminggu bahkan sampai berbulan. “Hanya orang yang cinta dengan pekerjaan ini yang bisa membuat ci,” kata Pius Karupits (49 tahun), salah satu ahli pembuat ci di Kampung Yepem.

Memang tidak sembarangan orang yang mewarisi keahlian membuat perahu tradisional ini. Kemampuan ini harus dilatih sedari usia muda. Kesabaran dan penguasaan akan keseimbangan yang presisi menjadi syarat wajib untuk menghasilkan ci yang baik. Meleset sedikit saja perahu akan oleng saat dibawa mengarung.

“Biasa anak muda itu kurang sabar. Jadi ci yang mereka bikin tidak seimbang,” lanjut Pius. “Pasti jalan miring kalau sudah masuk kali.”

Itu sebabnya para ahli pembuat perahu Asmat seperti Pius juga bertindak sebagai guru bagi para pembuat ci pemula. Selain membuat perahu, secara alamiah mereka juga bertugas sebagai pendamping bagi para generasi muda yang baru mulai mendalami profesi pembuat ci. Praktik transfer pengetahuan semacam ini terjadi secara natural dalam pelaksanaan ritual adat yang berlangsung sehari-hari di berbagai kampung di Asmat. Dengan begitu pengetahuan yang menjadi bagian dari kekayaan intelektual masyarakat adat Asmat ini dapat terus terjaga eksistensinya.

Penggunaan perahu ci dalam sebuah parade budaya Asmat di Kota Agats.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pengawasan dan Monitoring Mangrove Berbasis Masyarakat: Pembelajaran dari Lanskap Mimika-Asmat dan Indragiri Hilir

Resiliensi

The Way of Mangrove